BIOLOGI


                              Praktikum Biologi

   RARA SANTI YONATHA
I.       Praktikum ke      :  I
II.     Hari / tanggal       : Sabtu, 11 Oktober 2008
III.    Judul praktikum : Cara Menggunakan Mikroskop
IV.    Tujuan                  : Untuk mengenal dan mengetahui cara menggunakan   
                                        Mikroskop
Untuk mengenal bagian - bagian dan fungsi dari      mikroskop

V.     Landasan teori

Mikroskop

Mikroskop (bahasa Yunani: micron = kecil dan scopos = tujuan) adalah sebuah alat untuk melihat obyek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Atau mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata.

Jenis-jenis mikroskop

Jenis paling umum dari mikroskop, dan yang pertama diciptakan, adalah mikroskop optis. Mikroskop ini merupakan alat optik yang terdiri dari satu atau lebih lensa yang memproduksi gambar yang diperbesar dari sebuah benda yang ditaruh di bidang fokus dari lensa tersebut. Hal ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organisme yang berukuran kecil. Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan obyek yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan  mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
A. Mikroskop Cahaya
Mikroskop cahaya merupakan mikroskop yang mempunyai bagian-bagian yang terdiri dari alat alat yang bersifat optik, berguna untuk mengamati benda-benda yang transparan. Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimum 1000 kali. Mikroskop mempunyai kaki yang berat dan kokoh dengan tujuan agar dapat berdiri dengan stabil. mikroskop cahaya memiliki tiga sistem lensa, yaitu lensa obyektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa obyektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung. Mikroskop. Lensa okuler pada mikroskop bisa berbentuk lensa tunggal (monokuler) atau ganda (binokuler). Pada ujung bawah mikroskop terdapat tempat dudukan lensa obyektif yang bisa dipasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung miroskop terdapat meja mikroskop yang merupakan tempat preparat. Sistem lensa yang ketiga adalah kondensor yang berperan untuk menerangi obyek dan lensa-lensa mikroskop yang lain.
Lensa okuler, merupakan lensa mikroskop yang terdapat di bagian ujung atas tabung, berdekatan dengan mata pengamat. Lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif. Perbesaran bayangan yang terbentuk berkisar antara 4 - 25 kali.
Lensa kondensor, berfungsi untuk mendukung terciptanya pencahayaan pada obyek yang akan difokus, sehingga bila pengaturannya tepat akan diperoleh daya pisah maksimal. Jika daya pisah kurang maksimal, dua benda akan tampak menjadi satu.
B. Mikroskop Stereo
Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar. Mikroskop Stereomempunyai perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat terlihat secara tiga dimensi. Komponen utama mikroskop stereo hampir sama dengan mikroskop cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa obyektif.
Beberapa perbedaan anatar mikroskop stereo dengan mikroskop cahaya adalah:
Ø      Ruang ketajaman lensa mikroskop stereo  jauh  lebih  tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati.
Ø      sumber cahaya berasal dari atas sehingga obyek yang tebal dapat diamati.
Pada bagian bawah mikroskop terdapat meja preparat. Pada daerah dekat lensa obyektif terdapat lampu yang dihubungkan dengan transformator. Pengatur fokus obyek terletak disamping tangkai mikroskop, sedangkan pengatur perbesaran terletak diatas pengatur fokus.
C. Mikroskop Elektron
Mikroskop elektron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali, elektron digunakan sebagai pengganti cahaya. Mikroskop elektron mempunyai dua tipe, yaitu mikroskop elektron scanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi (TEM). SEM digunakan untuk studi detil arsitektur permukaan sel (atau struktur renik lainnya), dan obyek diamati secara tiga dimensi. Sedangkan TEM digunakan untuk mengamati struktur detil internal sel.

Struktur Mikroskop
Mikroskop terdiri dari tiga bagian yaitu :
1.      Statif
2.      Optik
3.      Alat penerangan
1.1. Statif
      Satif adalah bagian yang merupakan tempat memasang bagian bagian lainnya,    yang  terdiri dari :
v     Kaki ( foot, base ) umumnya berbentuk huruf V atau U
v     Tiang,  ( Arm ) : merupakan pendukung optik dan terpasang di atas kaki.
v     Meja  benda, terbuat  dari  logam pipih, berbentuk bulat atau segi empat, dibagian  tengah terdapat lubang bulat, untuk meneruskan cahaya yang dipantulkan dari cermin.
v     Pengatur kasar : berguna untuk mengatur ketinggian nase piese, yang berfungsi untuk mengatur jarak tepat antara objektif dan objek.
v     Pengatur halus : berguna untuk memperjelas bayangan yang telah diperoleh
   melalui pengatur kasar.
1.2. Optik
      Optik adalah bagian terpenting dari mikroskop. Fungsinya untuk memperbesar bayangan dari ukuran benda sesungguhnya. Bagian ini terdiri atas sebuah pembuluh dan  dua buah lensa okuler dan objektif :
v     Lensa okuler. Fungsinya untuk memperbesar bayangan dan memproyeksikan ke retina mata. Pada lensa okuler terdapat angka yang menunjukan perbesaran, seperti 4x, 5x, 10x, 43x, 45x, dan 100x
v     Lensa Objektif, fungsinya untuk memperbesar objek dan memproyeksikan bayangan ke arah lensa okuler.
v     Diafragma, fungsinya untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk dengan jalan mengatur besar atau kecilnya lubang yang dilalui cahaya.
v     Kondensor, fungsinya untuk memproyeksikan sinar yang berguna untuk menyinari objek yang diperiksa.

1.3. Alat penerangan
      Alat penerangan terdiri dari cermin datar dan cermin cekung. Cermin fungsinya untuk menerangkan dan memantulkan cahaya sehingga menerangi preparat.

VI.       Alat dan Bahan
·         Mikoskop
·         Bahan yang akan diamati
·         Kapas dan tisu

VII. Cara Kerja
a. Persiapan :
1. Siapkanlah alat yang akan dipergunakan.
2. Pilih tempat bekerja yang terang dan situasi bekerja yang bersih.
3. Bersihkan kaca lensa mikroskop dengan kain yang lembut.
4. Siapkan preparat yang akan diamati.
b. Pelaksanaan :
    1. Atur penerangan
    2. Gunakan objektif perbesaran 10x
    3. Putar pengatur kasar sehingga objektif bergerak ke atas
    4. Putar cermin sedemikian rupa sehingga bidang penglihatan nampak seterang-
    5. terangnya
    6. Atur diafgrama
    7. Pasang preparat, letakan tepat di atas lubang meja
    8. Lihat preparat melalui lensa okuler
    9. Turunkan objektif serendah mungkin, tapi hati hati jangan sampai objektifnya  
    10. Berimpit dengan kaca preparat yang akibatnya akan merusak perparat dan kaca.
  11. Pasang mata kiri pada okuler dan mata kanan dibuka. Usahakan melihat dengan keadaan mata terbuka. Jangan membiasakan memejam mata atau menututp satu  mata, karena hal ini akan menimbuklan silindir mata
    12. Diputar pengatur kasar, sehingga objektif bergerak ke atas, sambil diamati  sampai nampak gambar.
    13. Ganti objek perbesaran 10x dengan objektif perbesarasan yang lebih besar.
Perbesaran bayangan dapat dihitung dengan mengalihkan perbesaran objektif dan perbesaran okulernya.
14. Perjelas gambar dengan memutar pengatur halus.
 c.  Pengakhiran :
      a. Ambil preparat dari mikroskop
      b. Bersihkan semua alat dan mikroskop. Terutama lensa mikroskop agar  terhindar  dari kerusakan lensa yang disebabkan oleh jamur
      c. Simpan mikroskop ditempat semula.

VII. Data Hasil Pengamatan




IX.    Pertanyaan
1  Perbesaran minimum objektif untuk mikroskop biologi yang digunakan adalah:  4x
2. Lensa-lensa tidak boleh digosok dengan benda kasar karena akan menimbulkan   goresan pada lensa dan menyebabkan kerusakan, sehingga mengakibatkan pengamatan menjadi kurang jelas
3.   Perbedaan antara mikroskop biologi dengan Mikroskop Stereo.
Mikroskop Biologi merupakan sejenis  alat yang digunakan untuk melihat atau mengamati struktur benda benda yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang seperti sel. sedangkan Mikroskop Stereo  merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relative besar.
4. Cara menghitung perbesaran suatu objek yaitu : dengan mengalihkan   perbesaran objektif dan perbesaran okulernya.
5.   Cara menyimpan mikroskop yang baik :  Simpan pada tempat yang kering dan usahakan dalam lemari yang dilengkapi dengan lampu untuk mengurangi  kelembaban. Lensa yang kotor harus dibersihkan dengan kain lembut, kapas pengisap atau kertas lensa yang telah dibasahi dengan air bersabun, alkohol, atau xilol. Lakukan dengan hati-hati karena lensa mudah tergores, yang dapat  mengakibatkan  pengamatan menjadi   kurang
      jelas.
6.  Cara membawa mikroskop yang baik : pegang tangkainya dengan tangan kanan dan  letakkan  tangan  kiri  untuk  menopangnya. Jangan mengayun, melambungkan, atau menggetarkannya sewaktu meletakkan  mikroskop dan jangan mengangkat mikroskop pada tubuh tabungnya, karena akan ada bagian yang lepas atau jatuh.
7.  Tempat penyimpanan mikroskop beri lampu penerangan listrik karena :
     untuk mengurangi kelembaban.

X.        Pembahasan
Mikroskop adalah suatu benda yang berguna untuk memberikan bayangan yang diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang Fungsi utamanya adalah untuk melihat bayangan suatu benda yang lebih besar dan jelas. Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan obyek yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan  mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
Mikroskop cahaya merupakan mikroskop yang mempunyai bagian-bagian yang terdiri dari alat alat yang bersifat optik, berguna untuk mengamati benda-benda yang transparan.
Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar.
Mikroskop terdiri dari tiga bagian yaitu :
1. Statif
2. Optik
3. Alat penerangan.
            Mikroskop terdiri atas bagian-bagian yang masing-masing bagian tersebut mempunyai fungsi tersendiri. Lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan yang bersifat maya dan tegak. Lensa objektif berfungsi untuk mengatur pembesaran ukuran untuk kekuatan 4x, 10x, 40x dan 100x. Kondensor berfungsi untuk mengatur bayangan yang akan diamati atau untuk menaikkan dan menurunkan kondensor. Reflektor berfungsi untuk menerima cahaya yang masuk atau dapat memperjelas cahaya yang akan datang. Tubuh mikroskop berfungsi untuk tempat terjadinya proses bayangan antara lensa objektif dengan lensa okuler. Makrofokus berfungsi untuk mengatur jarak okuler objektif sehingga tepat fokusnya secara kasar dan jelas. Mikrofokus berfungsi untuk mengatur jarak okuler sehingga tepat fokusnya secara tajam. Revolver berfungsi sebagai tempat lensa objektif. Meja objek berfungsi untuk meletakkan preparat yang akan diamati. Penjepit berfungsi untuk memperkokoh kedudukan preparat agar tidak goyang. Pengatur kondensor berfungsi sebagai pengatur letak lensa kondensor terhadap preparat. Pemegang(lengan) berfungsi untuk memegang mikroskop. Diafragma berfungsi mengatur cahaya yang masuk dalam mikroskop. Kaki atau dasar berfungsi untuk memperkokoh kedudukan mikroskop. Sekrup engsel berfungsi menyesuaikan mikroskop yang baik.
XI.       Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah  Mikroskop adalah suatu benda yang berguna untuk memberikan bayangan yang diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan obyek yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan  mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). 
Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron
Bagian – bagian mikroskop terdiri dari tiga bagian utama :
a.       Statif (stand)
b.      Optik (bodytube, kijker, dan tubus)
c.       Alat penerangan (subtage)

Cara membawa mikroskop adalah tangan kanan memegamg pemegang mikroskop dan tangan kiri menopang alas kaki mikroskop setelah melakukan pengamatan lensa mikroskop harus dibersihkan dengan alkohol agar tidak ditumbuhi jamur

 XII.    Daftar pustaka
Kamajaya.1996. Sains Biologi. Ganesa Exact. Bandung.
Pramesti, Hening Tjaturina. 2000. Mikroskop dan Sel FK. Unlam.  
                        Banjarbaru.
Yekti, S. 1994. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.
Tim Dosen Biologi, 2008. Cara menggunakan Mikroskop. Unsri
http://www.hometrainingtools.com/misc/stereoparts.jpg
http://bima.ipb.ac.id/~tpb-ipb/materi/bio100/Materi/mikroskop.html

                                            



                               Praktikum Biologi
  RARA SANTI YONATHA
I.         Praktikum                               : III
II.        Hari / tanggal                         :  Sabtu, 25 Oktober 2008
III.       Judul Praktikum                   :  Mengenal Jaringan Tumbuhan
IV.       Tujuan                                   : untuk melihat dan mengetahui berbagai bentuk jaringan pada tumbuhan
V.        Landasan Teori
            Jaringan adalah kumpulan sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama.
Macam Jaringan Tumbuhan
Berdasarkan sifatnya jaringan tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa
1.      Jaringan Meristem
Jaringan meristem adalah jaringan sel yang penyusunnya bersifat embrional atau selalu membelah.
Ciri – ciri jaringan meristem misalnya muda dan belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi, berdinding tipis, protoplasma banyak, vakuola kecil, inti besar, plastida belum matang dan berbentuk sama kesegala arah.
a.       Meristem Primer
§         Terdapat pada titik tumbuh
§         Berkembang dari sel embrional
§         Letaknya pada kuncup, ujung akar, batang dan cabang
§         Memungkinkan akar dan batang bertambah panjang (pertumbuhan primer)
b.      Meristem Sekunder
§         Terdapat pada kambium
§         Menyebabkan pertumbuhan menjadi besar (pertumbuhan sekunder atau melebar)
§         Berkembang dari jaringan dewasa yang telah mengalami differensiasi

2.      Jaringan Dewasa
Jaringan dewasa (permanen) adalah jaringan yanng tidak meristematis.
Berdasarkan bentuk dan fungsinya jaringan permanen sebagai berikut:
a.       Jaringan epidermis (jaringan penutup), terdapat dipermukaan organ tubuh tumbuhan.
b.      Jaringan parenkim (jaringan dasar), umumnya sel – sel besar, kaya akan ruang antar sel.
Pada daun ada dua macam yaitu Parenkim Bunga Karang (spons) dan Parenkim Palisade
c.       Jaringan penyokong, mengokoh berdirinya tubuh tumbuhan
·         Kolenkim : dinding sel mengalami penebalan selulosa.
·         Sklerenkim : penebalan dari lignin.
d.      Jaringan pengangkut
ü      Xilem : mengangkut air dan garam mineral dari akar ke daun
ü      Floem : menganngkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh.

             Trakeid dan trakea merupakan bagian dari xilem (kayu). Sedangkan pembuluh tapis merupakan bagian dari floem (kulit kayu). Xilem dan floem membentuk ikatan pembuluh. Organ utama pada tumbuhan adalah akar, batang, dan daun, sedangkan  bunga merupakan organ tambahan.
Akar
a.             Fungsi akar, untuk menyerap air dan zat makanan, memperkokoh, menyimpan cadangan makanan, alat perkembanganbiakan vegetatif.
b.            Struktur akar
- Luar           : rambut akar, tudung akar
- Dalam        : epidermis, korteks, endodermis, stele
Akar tersusun dari jaringan-jaringan berikut :
1.      epidermis
2.      parenkim
3.      endodermis
4.      kayu
5.      pembuluh (pembuluh kayu dan pembuluh tapis) dan
6.      kambium pada tumbuhan dikotil.
Permukaan akar seringkali terlindung oleh lapisan gabus tipis. Bagian ujung akar memiliki jaringan tambahan yaitu tudung akar. Ujung akar juga diselimuti oleh lapisan mirip lendir yang disebut misel (mycel) yang berperan penting dalam pertukaran hara serta interaksi dengan organisme (mikroba) lain.
Batang
            Fungsi batang sebagai alat transportasi, menyimpan cadangan makanan, alat reproduksi vegetatif. Pada batang, jaringan pembuluh teratur dalam berkas pembuluh, dimana masing – masing berkas terdiri dari berkas xylem (di dalam), dan berkas floem (di luar).
Pada tumbuhan berpembuluh dapat dibedakan beberapa macam batang, yaitu:
a.       Batang kayu, pada batang ini terdapat sekunder terus menerus (terjadi penebalan diameter batang)
b.      Batang setengah kayu, pertumbuhan sekunder terbatas, biasanya umur tanaman setahun atau kurang (annual). Ikatan pembuluh yang terdiri dari xylem, cambium dan floem tersusun melingkar dalam sayatan mlintang.
c.       Batang yang tidak mengalamai pertumbuhan sekunder, misalnya pada monokotil yang tidak mempunyai cambium dan letak ikatan pembuluhnya menyebar.
Susunan batang tidak banyak berbeda dengan akar. Batang tersusun dari jaringan berikut
1.  epidermis
2. parenkim
3. endodermis
4. kayu
5. jaringan pembuluh, dan
6. kambium pada tumbuhan dikotil.

Struktur ini tidak banyak berubah, baik di batang utama, cabang, maupun ranting. Permukaan batang berkayu atau tumbuhan berupa pohon seringkali dilindungi oleh lapisan gabus (suber) dan/atau kutikula yang berminyak (hidrofobik). Jaringan kayu pada batang dikotil atau monokotil tertentu dapat mengalami proses lignifikasi yang sangat lanjut sehingga kayu menjadi sangat keras.
Daun
            Pada umumnya daun berbentuk lebar sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu fotosintesis, makin luas permukaanya, makin efisien untuk fotosintesis. Fungsi lainnya misalnya untuk menyimpan bahan makanan, alat reproduksi vegetatif, alat evaporasi.
            Untuk mengurangi penguapan, epidermis dilapisi kutikula atau lilin, sedangakan stomata (bentuk jamak dari stoma = mulut daun) berfungsi dalam mengatur penguapan serta pertukaran gas.
Daun lengkap terdiri dari pelepah daun, tangkai daun serta helai daun. Helai daun sendiri memiliki urat daun yang tidak lain adalah kelanjutan dari jaringan penyusun batang yang berfungsi menyalurkan hara atau produk fotosintesis. Helai daun sendiri tersusun dari jaringan-jaringan dasar berikut:
1. epidermis
2. jaringan tiang
3. jaringan bunga karang dan
4. jaringan pembuluh.
Permukaan epidermis seringkali terlapisi oleh kutikula atau rambut halus (pilus) untuk melindungi daun dari serangga pemangsa, spora jamur, ataupun tetesan air hujan.
Bunga
            Fungsi bunga sebagai alat pembentuk sel kelamin. Bunga itu sendiri terdiri atas bunga lengkap dan bunga tak lengkap.
VI.             Alat dan Bahan
Alat:
1.      Mikroskop
2.      Kaca objektif dan kaca penutup
3.      Silet tajam
4.      Pipet
5.      Pinset
Bahan:
1.      Batang bunga matahari (Helianthus annus atau Hellianthus angustifolius) umur 1bulan.
2.      Batang jagung (Zea mays)
3.      Batang bunga mawar (Rosa sinesis/R hibrida)
4.      Daun Rhoeo discolor
5.      Daun Ficus sp (tumbuhan karet atau beringin)
6.      Akar kecambah merah merah (Phaseo vulgaris) umur 4 – 5 hari.
7.      Empulur singkong/ubi kayu (Manihot esculenta)
8.      Anilin sulfat
9.      Gabus
10.  Kapas dan tissue

VII.      Cara Kerja
Kegiatan 1: Mendeteksi Ikatan Pembuluh Batang Dikotil, Monokotil, berkayu       dan Akar.
a.       Buatlah sayatan melintang dari batang bunga matahari, batang bunga jagung, batang bunga mawar serta kecambah kacang merah.
Catatan: sayatan yang baik apabila kita bisa menyayat setipis mungkin dengan menggunakan silet yang tajam, caranya sayatan silet di arahkan ketunuh kita. Kalau sayatan kita sangat tipis dan baik bisa kita dapatkan gambar di bawah mikroskop satu lapis sel.
b.      Letakkan sayatan tersebut di kaca objek yang telah ditetesi aniline sulfat. Kemudian tutup dengan kaca penutup. Bagian yang mengandung lignin (zat kayu akan berwarna kuning oleh aniline sulfat).
c.       Amatilah di bawah mikroskop dengan perbesaran objektif 10x, kemudian 40x.
d.      Perhatikan perbedaan antara keempat sayatan tersebut dan kenalilah ikatan pembuluh dan jaringan – jaringannya.
            Kegiatan 2: Mempelajari Jaringan.
a. Diwakili oleh batang Hellianthus annus
1.      Amati jaringan – jaringan yang terdapat pada sayatan melintang Hellianthus annus di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x.
2.      Perhatikan suunan ikatan pembuluhnya. Jika ingin melihat keseluruhan jaringan tersebut, gerakkanlah preparat perlahan – lahan agar semua gambar dapat kamu amati di bawah mikroskop. Usahakanlah melihat preparat dari bagian tepi (epidermis) sampai ke tengah.

b.      Mempelajari Jaringan pada Penampang Melintang Daun Ficus
1.      Selipkan sepotong daun Ficus di antara empulur batang pohon singkong (Manihot esculanta) yang telah dibelah ujungnya. (lihat gambar)

2.      Buat irisan melintang setipis mungkin dari daun tersebut bersama empulurnya. Empulur dapat diganti dengan gabus, karena hanya berfungsi sebagai pembantu dalam menyayat daun tersebut, yang dijadikan preparat hanya sayatan melintang daun Ficus.
c.       Mempelajari Jaringan pada Hipodermis Rhoeo Discolor.
1.      Buatlah sayatan membujur membujur permukaan bawah (paradermal) daun Rhoeo discolor (hypodermis, permukaan bawah yang berwarna violet/ungu)
2.      Usahakan yang disayat itu setipis mungkin karena kita menginginkan untuk mengamati satu lapis sel.
3.      Letakkan irisan tersebut di atas kaca obkel yang sudah bersih dan telah ditetesi aniline sulfat atau air ledeng/aquadest. Kemudian tutup pakai kaca penutup.
4.      amatilah di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x kemudian 40x.

IX.       Hasil pengamatan

Batang Jagung Perbesaran 4 X 10 = 40
  
Daun Jadam Perbesaran 4 X 10 = 40



Literature


Batang Bunga Matahari Perbesaran 4 X10 = 40




Daun Ficus/Beringin Perbesaran 4 X10 = 40






Batang Bunga Mawar Perbesaran  4 X 10 = 40





IX.       Pembahasan
Setelah kita melakukan percobaan ini yaitu mengenal jaringan tumbuhan. Kita dapat memahami bahwa pada jaringan tumbuhan berbeda dengan jaringan hewan.
Pada percobaan ini kita menggunakan batang bunga matahari, batang muda jagung, batang bunga mawar.
 Pada tumbuhan dikotil, antara xylem dan floem terbentuk dari aktivitas kambium ini disebut xylem sekunder dan floem sekunder. Pertambahan jumlah sel floem dan xylem sekunder menyebabkan diameter batang bertambah besar. Aktivitas kambium  yang membentuk xylem dan floem  sekunder ini merupakan pertumbuhan sekunder. Aktivitas pembentukan floem dan xylem sekunder pada batang dipengaruhi oleh musim. Pada musim kemarau lapisan yang terbentuk lebih tipis daripada saat musim penghujan. Inilah salah atu ciri yang membedakan batang dikotil dan batang monokotil.
Dari hasil pengamatan pada daun Rhoeo discolor terdapat inti sel, sitoplasma, dinding sel, stomata dan celah antara sel.

X.                Pertanyaan
1.                  Apa perbedaan batang dikotil dan monokotil dilihat dari ikatan pembuluhnya?
Jawab : Batang dikotil ikatan pembuluhnya tersusun secara teratur dalam satu lingkaran. Sedangkan pada batang monokotil ikatan pembuluhnya tampak menyebar.
2.                  Apa yang menyebabkan terjadinya lingkaran tahun?
Jawab : karena jaringan kambium masih tetap bersifat meristematis yang aktif membelah secara mitosis. Jika sel kambium membelah kea rah luar akan membentuk sel floem dan yang dalam tetap sabagai kambium. Sebaliknya jika membelah ke arah dalam, sel akan membentuk xylem dan yang luar tetap sebagai kambium. Jadi selama proses pembelahan ini, jaringan kambium tetap dipertahankan. Xylem dan floem yang terbentukdari aktivitas cambium ini disebut xylem sekunder dan floem sekunder. Pertambahan  jumlah sel floem dan xylem sekunder menyebabkan diameter batang bertambah besar. Aktivitas kambium yang membentuk xylem dan floem sekunder ini merupakan pertumbuhan sekunder. Aktivitas pembentukan floem dan xylem sekunder pada batang dipengaruhi oleh musim. Pada musim kemarau lapisan yang terbentuk lebih tipis daripada saat musim penghujan. Dan terdapat batas – batas yang menunjukkan kegiatan kambium selama musim hujan dan kemarau yang disebut lingkaran tahun.
3.                  Apa perbedaan antara akar dan batang pada batang melintangnya.
Jawab : pada akar terdapat endodermis dan dan pembuluh radial,  yang letak xylem dan floem bergantian melingkar. Sedangkan pada batang tidak ada endodermis dan ikatan pembuluhnya kolateral yang letak xylem dan floem melingkar.


XI.             Kesimpulan
1.         Jaringan adalah kumpulan sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama.
2.      Pada tumbuhan dikotil terdapat kambium, yang ikatan pembuluhnya tersusun secara teratur dalam satu lingkaran yang dibatasi oleh kambium dan mengalami penebalan sekunder sebagai akibat dari aktivitas kambium yang mengakibatkan lingkaran tahun.
3.    Sedangkan  pada tumbuhan monokotil tidak terdapat kambium, ikatan pembuluhnya menyebar.


                           



                              PRAKTIKUM BIOLOGI
RARA SANTI YONATHA T
I. Praktikum Ke    : VII
II. Hari/ Tanggal   : Sabtu, 22 November 2008
III. Judul Praktikum: Fotosintesis
IV. Tujuan           : Ingin membuktikan bahwa
                             a.       Fotosintesis menghasilkan tepung
                             b.      Fotosintesis menghasilkan gas (O2)
                             c.       Fotosintesi berpengaruh terhadap intensitas cahaya.
V.        Landasan Teori
            Fotosintesis adalah suatu prose biologi yang kompleks. Proses ini menggunakan  energi dari cahaya yang dapat dimanfaatkan oleh klorofil yang terdapat dalam kloroplas. Fotosintesis memerlukan CO2 dari udara bebas, H2O dan unsur hara lainnya dari dalam tanah sebagai bahan menghasilkan karbohidrat dan O2 yang dilepaskan ke udara. Karbohidrat yang pertama dibentuk dalam glukosa.
Berikut adalah beberapa faktor utama yang menentukan laju fotosintesis:
1. Intensitas cahaya
     Laju fotosintesis maksimum ketika banyak cahaya.
2. Konsentrasi karbon dioksida
  Semakin banyak karbondioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapat digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis
3. Suhu
    Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim,
4. Kadar air
    Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbondioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis.
4. Kadar fotosintat (hasil fotosintesis)
    Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang.
5. Tahap  pertumbuhan
    Laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan utuk tumbuh.
Dalam mekanisme fotosintesis, air dan garam mineral diserap oleh tumbuhan melalui serabut akar dan bergerak ke atas menuju daun melalui pembuluh xylem. Sementara itu energi  cahaya matahari diikat oleh klorofil yang berada di daun (jaingan palisade) dan CO2 masuk ke daun melalui stomata, akhirnya berlangsung peristiwa:
            
Setelah terbentuk zat makanan, hasilnya di edarkan keseluruh tubuh melalui pembuluh floem dan O2 dikeluarkan ke udara bebas melalui stomata. Pada dasarnya, rangkaian reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida).
a. Reaksi Terang
   Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2. Reaksi ini memerlukan molekul air. Proses diawali dengan penangkapan foton oleh pigmen sebagai antena.
Di dalam daun, cahaya akan diserap oleh molekul klorofil untuk dikumpulkan pada pusat-pusat reaksi. Tumbuhan memiliki dua jenis pigmen yang berfungsi aktif sebagai pusat reaksi atau fotosistem yaitu fotosistem II dan fotosistem I. Fotosistem II terdiri dari molekul klorofil yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer, sedangkan fotosistem I 700 nanometer. Kedua fotosistem ini akan bekerja secara simultan dalam fotosintesis, seperti dua baterai dalam senter yang bekerja saling memperkuat.
Fotosintesis dimulai ketika cahaya mengionisasi molekul klorofil pada fotosistem II, membuatnya melepaskan elektron yang akan ditransfer sepanjang rantai transpor elektron. Energi dari elektron ini digunakan untuk fotofosforilasi yang menghasilkan ATP, satuan pertukaran energi dalam sel. Reaksi ini menyebabkan fotosistem II mengalami defisit atau kekurangan elektron yang harus segera diganti. Pada tumbuhan dan alga, kekurangan elektron ini dipenuhi oleh elektron dari hasil ionisasi air yang terjadi bersamaan dengan ionisasi klorofil. Hasil ionisasi air ini adalah elektron dan oksigen.
Oksigen dari proses fotosintesis hanya dihasilkan dari air, bukan dari karbon dioksida. Pendapat ini pertama kali diungkapkan oleh C.B. van Neil yang mempelajari bakteri fotosintetik pada tahun 1930an. Bakteri fotosintetik, selain sianobakteri, menggunakan tidak menghasilkan oksigen karena menggunakan ionisasi sulfida atau hidrogen.
Pada saat yang sama dengan ionisasi fotosistem II, cahaya juga mengionisasi fotosistem I, melepaskan elektron yang ditransfer sepanjang rantai transpor elektron yang akhirnya mereduksi NADP menjadi NADPH.
b. Reaksi gelap
   ATP dan NADPH yang dihasilkan dalam proses fotosintesis memicu berbagai proses biokimia. Pada tumbuhan proses biokimia yang terpicu adalah siklus calvin yang mengikat karbondioksida untuk membentuk ribulosa (dan kemudian menjadi gula seperti glukosa). Reaksi ini disebut reaksi gelap karena tidak bergantung pada ada tidaknya cahaya sehingga dapat terjadi meskipun dalam keadaan gelap (tanpa cahaya).

VI.       Alat dan Bahan
a.       Alat 
1.      Gelas kimia 100 ml, 250 ml,600 ml, dan 1000 ml.
2.      Gelas ukur 100 ml, 250 ml
3.      Cawan petri
4.      Pembakar alkohol
5.      Tripot
6.      Kassa bebas
7.      Pinset
8.      Pipet
9.      Corong kaca (diameter 7 cm)
10.  Tabung reaksi
11.  Batang gelas 25 cm
12.  Spatula
13.  Thermometer 50o
14.  Pisau silet
15.  Lampu dengan reflektor 150 watt
16.  Stopwatch
17.  Statif dan klem
18.  Mistar berskala cm
19.  Timbangan (ketelitian)
b.      Bahan
1.      Air suling
2.      Alkohol 96% (500 ml)
3.      Larutan lugol (50 ml)
4.      Daun
5.      Kertas
6.      Hydrilla
7.      NaHCO3
8.      Benang
9.      Kawat
10.  Karet gelang
11.  Larutan lugol (500 ml)
12.  Spritus
13.  Kapas dan tisu
14.  Air panas

VII.          Cara Kerja
Perhatian: Jangan memanaskan alkohol langsung si atas api !!!!.
                 Cara memanaskan alkohol lihat gambar !!!.
Kegiatan 1: Fotosintesis menghasilkan terpung
a.       Pilih tumbuhan di kebun yang daunnya baik untuk percobaan, misalnya tumbuhan dikotil yang daunnya tidak terlihat besar, tidak berbulu seluruhnya, tidak terlalu besar dan lain – lain. Pada sore hari tutuplah bagian tengah daun dengan kertas timah, dengan melipatkan kertas timah selebar 1 – 2 cm. Agar tidak mudah lepas, gunakan penjepit kertas (paperclip). Lihat pada gambar
b.      Pada keesokan harinya, setelah daun terkena cahaya matahari beberapa lama, petiklah dan buka kertas timahnya, lalu masukkan alkohol ke dalam gelas piala lalu panaskan dengan air panas di bawah alhokol,seperti pada gambar.
c.       Daun yang sudah dimasukkan ke dalam alkohol panas sampai warna daun agak putuh.
d.      Dengan pinset, pindahkan daun kecawan petri, kemudian tetesi dengan larutan lugol hingga merata.

            Kegiatan 2: Gas yang dihasilkan oleh fotosintesis.
                                                       a.            Isilah dua gelas piala 600 ml ( A dan B) dengan air sulingsebanyak 500 ml. Tambahkan ke dalam masing – masing gelas piala NaHCO3 sebanyak 0,5 gram dan aduklah hingga larut. Jika persediaan air suling terbatas, dapat digunakan air sumur atau air suling ledeng.
                                                      b.            Aturlah corong dan tabung reaksi di dalam air, seperti pada gambar di bawah. Untuk menyangga corong gunakan kawat tiga potong yang telah dibengkokkan seperti pada gambar.
                                                       c.            Sediakan 10 – 20 batng hydrilla (panjang  8 cm), pangkal batangnya dipotong dengan silet atau pisau yang tajam. Bagilah menjadi dua kelompok yang kira – kira sama banyak.
                                                      d.            Ikatlah secara longgar pangkal batang tiap kelompok hydrilla tadi. Masukkan satu kelompok kegelas piala A dan satu kelompok kegelas B.
                                                       e.            Aturlah kelompok hydrilla di bawah corong dengan pangkalbatang kesebelah atas.
                                                       f.            Gelas piala A dijemur dipanas matahari (atau disinari dengan lampu yang kuat, minimum 150 w), sedangkan gelas piala B diletakkan di tempat yang gelap/tidak beri sinar.
                                                      g.            Lalu hitunglah jumlah gelembung pada kedua gelas piala yang dihasilkan tiap menit selama lima menit.

            Kegiatan 3: Pengaruh intensitas cahaya terhadap laju fotosintesis.
                                                 a.                  Sediakan larutan NaHCO3 0,25% dalam air suling (2,5 gr NaHCO3 dalam 1 liter air suling)
                                                b.                  Isilah gelas ukur 100 ml dengan larutan NaHCO3 0,25% hingga volume 90ml
                                                 c.                  Ambillah sebatang hydrilla yang masih segar (panjang 10 cm), dengan hati – hati ikatlah hydrilla pada batang gelas dengan  menggunakan benang. Masukkan ke dalam gelas ukur. Seluruh hydrilla harus terendam dengan air.
                                                d.                  Isilah gelas piala 1000 ml dengan air ledeng dan aturlah percobaan seperti pada gambar
                                                 e.                  Pasangkan sebuah lampu terpasang pada reflektur dengan jarak 10 cm dari gelas ukur. Lampu harus mempunyai nyala yang kuat, paling sedikit 150w.
                                                 f.                  Nyalakan lampu  dan biarkanlah sampai beberapa menit sehingga keluar gelembung – gelembung gas dari pangkal hydrilla. Bila tidak keluar gelembung, keluarkanlah tumbuhan tadi dan potonglah pangkalnya dengan silet. Kalau belum juga berhasil gantilah dengan hydrilla yang lebih segar. Jika terjadi gelembung yang besar – besar dalam jarak waktu yang lama pijitlah dengan hati – hati pangkkal hydrilla dengan menggunakan pinset.
                                                g.                  Bila sudah berjalan dengan baik, biarkan lebih kurang 5 menit. Kemudian hitunglah jumlah gelembung yangkeluar tiap menit. Lakukanlah perhitungan 5 x 1 menit dan tentukanlah rata-rata.
                                                h.                  Pindahkanlah lampunya pada jarak 20 cm, biarkanlah 5x1menit lalu tentukan harga rata –ratanya.
                                                  i.                  Lakukan selanjutnya untuk jarak 30 dan 40 cm dengan prosedur yang sama
Catatan: untuk setiap melakukan kegiatan dengan lampu berjarak 10, 20, 30, dan 40 cm perlu diperhatikan suhu dari air yang terdapat dalam gelas ukur yang berisi hydrilla. Suhu air diusahakan konstan seperti pada permulaan percobaan. (bila suhunya naik karena disinari), tambahkan sedikit air es pada gelas piala 1000 ml yang berisi air ledeng dan aduklah hingga merata. Tunggu sebentar hingga suhunya turun.

VIII.       Hasil Pengamatan

a)            Fotosintesis menghasilkan gas (oksigen)
Keterangan
Di luar ruangan
Jumlah
I
II
III
IV
V
Jumlah gelembung
3
8
14
25
35
85 gelembung
                       

Keterangan
Di dalam ruangan
Jumlah
I
II
III
IV
V
Jumlah gelembung
5
6
9
13
20
53 gelembung
                       

            b)         Fotosintesis menghasilkan tepung
            Gambar daun sebelunya                                

            Gambar daun dipanaskan alkohol



             Gambar daun setelah diteteskan larutan lugol
         


·         Keterangan gambar  daun sebelum dipanaskan dengan alkohol:
            Daun berwarna hijau terang dan diberi kertas timah di atas dan di bawah daun sehingga tidak ada cahaya matahari yang masuk ke daun

·         Keterangan gambar daun sesudah dipanaskan dengan alkohol:
            Terjadi perubahan warna karena klorofilnya larut dan daun berwarna hijau transparan atau pucat.

·         Keterangan gambar daun setelah diteteskan dengan lugol:
Setelah ditetesi dengan larutan lugol bagian daun yang tertutup oleh kertas timah tetap pucat sedangkan yang tidak tertutup warnanya menjadi biru kehitaman. Warna biru kehitaman menandakan di daun tersebut terdapat amilum.

Pembahasan:
Saat diberi kertas timah tidak terjadi perubahan warna pada lilitan kertas  timah, pada saat dipanaskan dengan alkohol terjadi perubahan warna hijau transparan atau pucat. Kemudian diteteskan dengan larutan lugol terjadi perubahan yaitu pada daun yang ditutup dengan kertas timah warnanya tetap tetapipada daun yang tidak tertutup dengan kertas timah warnanya biru kehitaman karena terdapat amilum di dalamnya.
c)         Fotosintesis berpengaruh terhadap intensitas cahaya

Jarak
Suhu (T)
Banyak Gelembung
Jumlah
Rata – rata
I
II
III
IV
V
10 cm
29o
1
3
4
3
6
17
3,4
20 cm
29o
5
3
3
0
0
11
2,2
30 cm
29o
2
1
0
0
1
4
0,8
40 cm
29o
1
1
0
0
0
2
0,4

Keterngan watt lampu 100 watt.

Pembahasan:
Dari beberapa jarak lampu yang dipraktikkan dapat disimpulkan bahwa semakin dekat jarak cahaya tersebut maka semakin banyak gelembung yang dihasilkan, sedangkan jika jarak cahaya itu semakin jauh maka makin sedikit gelembung yang dihasilkan. Oleh karena itu fotosintesis berpengaruh terhadap intensitas cahaya.

VII.          Pembahasan
Pada proses fotosintesis yang menghasilkan amilum. Daun yang sebagian dibungkus dengan kertas timah (kertas bungkus rokok) yang setelah terkena sinar matahari sejak pagi hari lalu dipetik. Daun tersebut direbus untuk mematikan sel – selnya. Selanjutnya daun tersebut dimasukkan ke dalam alkohol, agar klorofilnya larut sehinggan daun tersebut menjadi pucat. Saat daun itu ditetesi dengan larutan lugol, bagian daun yang tertutup oleh kertas timah tetap pucat sedangkan yang tidak tertutup warnanya menjadi biru kehitaman. Warna biru kehitaman menandakan bahwa di daun tersebut terdapat amilum.
Fotosintesis juga menghsilkan gas (oksigen) yang sudah kita amati tumbuhan air Hydrilla verticillata di dalam bejana yang di isi air. Bejana gelas itu di tutup dengan corong terbalik dan di atasnya diberi tabung reaksi yang di isi air hingga penuh bejana yang diletakkan di terik matahari tak lama kemudian muncul gelembung  udara dari tumbuhan air itu. Gelembung udara tersebut menandakan adanya gas (oksigen).

VIII.       Pertanyaan
1.                  Pada percobaan a fotosintesis menghasilkan tepung, setelah daun dipetik mengapa harus dimasukkan air panas dahulu?
Jawab : daun yang sudah dipetik harus di masukkan air panas dahulu untuk mematikan sel – selnya.
2.                  Pada daun yang  berwarna merah, dapatkah terjadi fotosintesis? Mengapa demikian?
Jawab : Bisa, kemungkinan didaun tersebut terdapat klorofil  tapi lebih dominan warna merah.
3.                  Pada percobaan fotosintesis tumbuhan air, mengapa air sebaiknya ditambah?
Jawab :

4.                  Jika digunakan lampu sinar hijau, dapatkah terjadi fotosintesis? Mengapa demikian?
Jawab : Dapat digunakan, karena cahaya yang digunakan untuk fotosintesis adalah cahaya tampak. Gelembung cahaya tampak yang terpendek adalah cahaya ungu dan yang terpanjang adalah cahaya merah. Klorofil b menyerap terutama cahaya biru dan oranye dan memantulkan cahaya hijau-kuning.  Karotenoid adalah pigmen kuning – oranye yang menyerap cahaya biru – hijau. Oleh karena itu klorofil b dan karotenoid  tidak berperan langsung dalam reaksi terang, tetapi dengan memperluas kisaran cahaya yang dapat digunakan oleh tumbuhan. Yang prosesnya cukup lambat dan memerlukan lamnya penyinaran.

IX.             Kesimpulan
1.      Proses fotosintesis dapat menghasilkan tepung, gas (oksigen), dan pengaruh intensitas cahaya terhadap laju fotosintesis.
2.      Proses fotosintesis yang menghasilkan gas (oksigen) semakin jauh jarak cahaya maka gelembung cahaya yang dihasilkan semakin sedikit. Dalam pengikatan Hydrilla juga berpengaruh karena akan menghambat masuknya karbondioksida yang diperlukan pada proses fotosintesis dan pada banyak sedikitnya gas oksigen yang dihasilkan.
3.      Fotosintesis adalah suatu prose biologi yang kompleks. Proses ini menggunakan  energi dari cahaya yang dapat dimanfaatkan oleh klorofil yang terdapat dalam kloroplas
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini