LAPORAN - LAPORAN KULIAH


LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI
Rara Santi Yonatha Thresia
 I.                   Judul Percobaan    : Pembuatan Nata De Coco
II.                Tujuan Percobaan  : Untuk Mengetahui Proses Pembuatan Nata De coco Perkembangan Bakteri
                                               Acetobacter  Xylinum
III.             Landasan Teori
Nata adalah biomassa yang sebagian besar terdiri dari sellulosa, berbentuk agar dan berwarna putih. Massa ini berasal dari pertumbuhan Acetobacter xylinum pada permukaan media cair yang asam dan mengandung gula.
Nata dapat dibuat dari bahan baku air kelapa, dan limbah cair pengolahan tahu (whey tahu). Nata yang dibuat dari air kelapa disebut dengan nata de coco, dan yang dari whey tahu disebut dengan nata de soya. Bentuk, warna, tekstur dan rasa kedua jenis nata tersebut tidak berbeda. Pembuatan nata tidak sulit, dan biaya yang dibutuhkan juga tidak banyak. Usaha pembuatan nata ini merupakan alternatif usaha yang cukup menjanjikan (prospektif).
Komponen yang terpenting yang terdapat di dalam air kelapa adalah karbohidrat (gula). Air kelapa dari buah yang sudah tua mengandung sukrosa, vitamin C dan mineral, terutama kalium. Tidak sedikit manfaat yang dapat diambil dari air kelapa, baik sebagai bahan baku industri makanan dan minuman ataupun dari segi khasiatnya untuk pengobatan. Air kelapa bisa dibuat makanan yang disebut nata de coco, kecap air kelapa dan asam cuka.
Bila ditinjau dari khasiatnya air kelapa membantu pengobatan pada peradangan ginjal, pengobatan perut yang terkena penyakit cacingan, pengobatan akibat gangguan pencernaan dan sangat berguna untuk menangani kasus kolera. Adanya garam-garam dan albumin yang dikandungnya dapat mencegah muntah dan menghilangkan bercak-bercak karena cacar air dan campak. Pemanfaatan limbah air kelapa untuk kecap, cuka dan makanan lain berguna untuk meningkatkan nilai ekonomis yang sekaligus upaya pekerjaan baru. Produk olahan yang kini berkembang dan mempunyai nilai ekonomis adalah produk nata de coco.
Nata adalah selulosa bakteri yang merupakan hasil sintesis dari gula oleh bakteri pembentuk nata,  yaitu  A.  xylinum.  Beberapa  galur  Acetobacter  menghasilkan  membran  bergelatin  yang  dinamakan  pellicle  pada  permukaan  suatu  kultur  cair.  Membran  ini  sama  dengan  “Nata  de  Coco”,  suatu  jenis  makanan  hasil  fermentasi  tradisional  di  Filipina  yang  yang  sangat  dikenal  sebagai makanan penutup di Jepang. Substansi gelatin ini secara kimiawi identik dengan selulosa (Yoshinaga et al., 1997).
Air  kelapa  mempunyai  potensi  yang  baik  untuk  di  buat  minuman  fermentasi  karena kandungan zat gizinya yang kaya dan relatif lengkap, sehingga sesuai untuk pertumbuhan mikroba. Komposisi  gizi  air  kelapa  tergantung  pada  umur  kelapa  dan  variertasnya.  Air  kelapa  per  100  ml mengandung sejumlah zat gizi, yaitu protein 0,2 g, lemak 0,2 g, gula 3,8 g, vitamin C 1,0 mg, asam amino,  dan  hormon  pertumbuhan.  Jenis  gula  yang  terkandung  glukosa,  fruktosa,  sukrosa,  dan sorbitol (Astawan, 2004).
Acetobakter  xylinum  merupakan  bakteri  asam  asetat  yang  bersifat  gram  negatif,  aerob, berbentuk  batang,  nonmotil,  suhu  optimum  pertumbuhannya  2530  0C,  dan  mampu  mengoksidasi etanol A. xylinum merupakan kegiatan sintesa selulosa yang dikatalis oleh enzim pensintesis selulosa yang terikat  pada  membran  sel  bakteri.  Selulosa  bakterial  merupakan  salah  satu  produk  fermentasi  yang  menggunakan mikroorganisme  seperti  A.  xylinum,  A.  pasteurianus  estunensis,  Sacsina  ventriculi,  dan  Valonia macrophysa.  Produk  alami  ini  bebas  lignin,  kristalinitasnya  tinggi  (>60%),  dan  merupakan  selulosa dengan Acetobacter  merupakan  bakteri  yang  menghasilkan  seratserat  selulosa  yang  sangat  halus. Seratserat  ini  dapat  membentuk  suatu  jaringan  pada  lapisan  permukaan  antara  udara  dan  cairan yang  disebut  pelikel.  Pelikel  ini  memiliki  ketebalan  kirakira  10  mm  bergantung  pada  masa pertumbuhan  mikroba.  Pelikel  yang  berada  pada  permukaan  udara  cairan  ini  terdiri  atas  pitapita yang  mengandung  kristalin  yang  tinggi.  Pita–pita  tersebut  memiliki  lebar  40100  nm,  namun panjangnya sulit diukur karena membentuk jaringan yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Pita tersebut Menurut  Meshitsuka  dan  Isogai  (1996),  bahan  yang  mengandung  selulosa  biasanya membentuk  struktur  kristalin,  sehingga  air  tidak  dapat  masuk  kedaerah  aktif  kristalin  pada  suhu kamar. Selulosa  bakterial  memiliki  karakteristik  yang  berbeda  pada  struktur  kristalinnya.  Selulosa tersebut mengandung dua struktur  kristalin yang berbeda, yaitu selulosa 1α dan selulosa 1ß. Pada selulosa 1α, satu unit sel triklinat mengandung satu rantai selulosa, sedangkan pada selulosa 1ß satu unit  sel  monoklinat  mengandung  dua  rantai  selulosa.  Selulosa  bakterial  mengandung  selulosa  1α kirakira yang  mengandung  selulosa  1α  hanya  30%,  sedangkan  sisanya  adala  selulosa  1ß  (Yoshinaga  et  al. 2007)
Bibit nata bakteri Actobacter xylinum yang akan dapat membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan karbon dan nitrogen melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersebut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata.
Acetobacter Xylinum dapat tumbuh pada pH 3,5 – 7,5, namun akan tumbuh optimal bila pH nya 4,3, sedangkan suhu ideal bagi pertumbuhan bakteri Acetobacter Xylinum pada suhu 28°– 31 °C. Bakteri ini sangat memerlukan oksigen. Bakteri Acetobacter Xylinum termasuk genus Acetobacter,yakni genus bakteri yang memiliki kemampuan mengubah etanol ( alkohol ) menjadi asam cuka . Dalam proses itu, bakteri menggunaan oksigen. Koloni Acetobacter bisa dengan mudah dikenal dengan medium tumbuh yang mengandung kadar etanol 7% . kalsium karbonat yang ditambahkan pada medium tersebut akan memburamkan sebagian medium. Bakteri ini berbentuk batang pendek atau kokus .Panjangnya sekitar 2 mikron dengan permukaan berlendir , dan bisa membentuk rantai pendek terdiri dari 6-8 sel .
Urea  adalah  suatu  senyawa  organik  yang  terdiri  dari  unsur  karbon,  hidrogen,  oksigen  dan nitrogen  dengan  rumus  (NH2)2CO.  Urea  juga  dikenal  dengan  nama  carbamide  yang  terutama digunakan di kawasan Eropa. Sebagai pupuk, urea digunakan sebagai sumber nitrogen demikian juga ZA.  Pupuk  ZA  adalah  pupuk  kimia  buatan  yang  dirancang  untuk  memberi  tambahan  nitrogen  dan belerang amonium  sulfat  (NH4SO4).  Kedua  jenis  pupuk  ini  diberikan  sebagai  sumber  nitrogen  dalam  proses pembuatan Nata.
Asam asetat atau asam cuka digunakan untuk menurunkan pH atau meningkatkan keasaman air kelapa. Asam asetat yang baik adalah asam asetat glacial (99,8%). Asam asetat dengan konsentrasi rendah dapat digunakan, namun untuk mencapai tingkat keasaman yang diinginkan yaitu pH 4,5 – 5,5 dibutuhkan dalam jumlah banyak. Selain asan asetat, asam-asam organik dan anorganik lain bisa digunakan.

IV.    Alat dan Bahan
-          Alat
a.    Panci
b.    Stater
c.    Nampan /
d.   Gelas Ukur
e.    Karet/Tali untuk mengikat baki
f.     Kertas Koran
g.    Pengaduk
h.    Kompor
i.      Saringan

-          Bahan
a.    Air Kelapa  1 Liter
b.    Gula 100 gram
c.    Urea 5 gram
d.   Asam Asetat Glasial 5 ml

V.            Cara Kerja
Air Kelapa sebanyak 1 liter dan gula sebanyak 100 gram dipanaskan hingga gula larut dan kemudian di tambahkan dengan urea sebanyak 5 gram, ambilah kotoran-kotoran atau gelembung-gelembungnya. Setelah dipanaskan hingga mendidih selama 30 menit air kelapa dibiarkan dingin dan kemudian di tambahkan dengan asam asetat. Air kelapa yang telah siap di pindahkan ke dalam baki / kotak plastik steril, lalu ditambahkan stater kedalamnya secara pelan-pelan. Kemudian tutup dengan Koran yang sudah diopen hingga tidak ada lagi udara yang dapat masuk atau keluar, lalu didiamkan selama 2 minggu.
Simpan baki / kotak plastik  ditempat yang baik dengan sirkulasi udara yang bagus, suhu ruang berkisar 28 - 30 derajat Celsius. Setelah 1 – 2 minggu, air kelapa yang semula cair sekarang sudah menjadi padat (nata de coco) berupa lembaran. Setelah pemeraman selesai, nata dipanen, dicuci, dihilangkan asamnya dengan perebusan atau perendaman dalam air selama tiga kali (air  diganti tiap hari).
Nata kemudian dipotong-potong dan direbus kembali, ditiriskan. Perebusan selanjutnya dalam larutan gula 40% selama 30-45 menit. Dibiarkan semalam dalam larutan gula. Selanjutnya nata siap dikonsumsi.

VI.         Hasil Pengamatan
Air kelapa yang telah ditambahkan gula, urea, asam asetat serta stater, didiamkan selama lebih kurang 2 minggu didapatkan hasilnya berupa lembaran nata de coco yang berwarna putih transparan dan memiliki tekstur yang kenyal.

VII.     Persamaan Reaksi
          Reaksi liat lampiran

  
VIII.   Pembahasan
Bahan baku yang berasal dari air kelapa yang disebut nata de coco. Proses pembuatan nata tidak terlalu sulit dan hasil yang diperoleh pun jika telah diolah bisa dijadikan makanan ringan yang banyak digemari oleh konsumen.
Beberapa faktor proses pembuatan nata de coco (sesuai dengan kriteria pasaran) sangat diperlukan kebersihan dan sterilnya bahan dan alat yang digunakan. Pensterilan ini salah satunya dapat dilakukan dengan cara perebusan, misalnya perebusan air kelapa, perebusan ini berfungsi untuk mensterilkan air kelapa dari bakteri-bakteri yang ada. Selama perebusan terdapat gelembung – gelembung berwarna putih pada permukaan air, gelembung – gelembung ini perlu di buang karena warna putih pada gelembung-gelembung merupakan kotoran dari air kelapa yang sangat halus yang tidak ikut tersaring saat air kelapa disaring sebelum proses perebusan. . . . .  . .. . . . 
Nata de coco yang dihasilkan dari praktikum bioteknologi ini memiliki sifat yang sama dengan nata de coco pasaran. Dari segi warnanya nata de coco ini memiliki warna putih transparan, dan bertekstur kenyal. Setelah diolah (dengan cara pencucian, perebusan serta dimasak) nata de coco yang dihasilkan memiliki rasa yang sama dengan nata de coco pasaran.

IX.         Kesimpulan
·           Nata merupakan jenis komponen minuman yang terdiri dari senyawa selulosa (dietry fiber), yang dihasilkan dari air kelapa melalui proses fermentasi, yang melibatkan jasad renik (mikrobia), yang selanjutnya dikenal sebagai bibit nata. 
·         Fungsi penambahan urea pada pembuatan nata de coco adalah sebagai sumber makanan bakteri  Acetobacter xylinum. Dan penambahan stater ke dalam air kelapa dilakukan setelah air kelapa dingin, hal ini dikarenakan bakteri yang ada akan mati bila berada pada suhu yang tinggi.
·         Penambahan asam asetat glacial dalam proses pembuatan nata de coco berfungsi untuk mengatur pH larutan yang diinginkan yaitu antara 3,5 - 7,5. hal ini dikarenakan Acetobacter Xylinum dapat tumbuh pada pH 3,5 – 7,5, namun akan tumbuh optimal bila pH nya 4,3.
·         Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan nata de coco antara lain :
-          Kebersihan atau sterilnya alat dan bahan yang digunakan
-          pH, dapat diatur dengan penambahan asam asetat glacial
-          Umur bakteri Acetobacter Xylinum
-          Lama penyimpanan ketika proses pembentukan nata
-          Penyimpanan di lakukan di tempat yang memiliki siklus udara yang baik, dan baki yang digunakan harus tertutup rapat, karena jika ada udara yang dapat keluar masuk memungkinkan untuk bakteri-bakteri lain akan masuk dan menganggu proses pembentukan serat – serat nata de coco.

DAFTAR PUSTAKA
Astawan, Made.2004. Nata De Coco yang Kaya Serat. http://www.kompas.co.id . Diakses tanggal 19 Oktober 2011..
Kosgoro, Abe. 2008. Cara Membuat nata de coco. http://abekosgoro.wordpress.com. Diakses tanggal 19 Oktober 2011..
Wikipedia. 2010. Nata de coco. http://id.wikipedia.org/wiki/Nata_de_coco Diakses tanggal 19 Oktober 2011..
http://inacofood.wordpress.com/ Diakses tanggal 19 Oktober 2011











LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI
Rara Santi Yonatha Thresia
 I.                   Judul Percobaan          : Pembuatan Dodol Wortel
II.                Tujuan Percobaan        : Untuk Mengetahui Proses Pembuatan  Dodol Wortel
               
III.             Landasan Teori
Dalam dunia tumbuhan klasifikasi wortel adalah sebagi berikut :
-          difisi : spermatophyte
-          klas  :  aniospermae
-          subklas : dycotyledoneae
-          ordo umbellales
            Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian  umbi atau akarnya. Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 - 24 bulan) yang menyimpan karohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua. Batang bunga  tumbuh setinggi sekitar 1 m, dengan bunga berwarna putih. 
Wortel segar mengandung air, protein, karbohidrat, lemak, serat, abu, nutrisi anti kanker, gula alamiah (fruktosa, sukrosa, dektrosa, laktosa, dan maltosa), pektin, glutanion, mineral (kalsium, fosfor, besi, kalium, natrium, amgnesium, kromium), vitamin (beta karoten, B1, dan C) serta asparagine. Beta Karotennya mempunyai manfaat sebagai anti oksidan yang menjaga kesehatan dan menghambat proses penuaan. Selain itu Beta Karoten dapat mencegah dan menekan pertumbuhan sel kanker serta melindungi asam lemak tidak jenuh ganda dari proses oksidasi.                                                                                           
Santan  santan yang di gunakan dalam pembuatan dodol berasal dari cairan yang di peroleh denga melakukan pemerasan terhadapa daging buah kelapa parutan. Santan kelapa akan terkoagulasi jika di panaskan pada suhu 80oC. Santan kelapa yang di tambahkan pada pembuatan dodol berfungsi sebagai pembentuk tekstur, rasa, dan aroma serta agar dodol tidak lengket
Gula                                                                                                                            
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Fungsi gula selain sebgai pemanis juga sebagi penambah aroma dan pewarna serta dapat jutga sebagai pengawet bagi mikroba yang tidak tahan dengan keadaan kandungan gula  yang banyak. Namun untuk jamur kondisi tersebut justru sangat baik untuk pertumbuhannya ( supardi dan sakanto, 1999) karena itu di perlukan bahan pengawet lain yang dapat mencegah pertumbuhan jamur. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentukkristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel.                        
Gula sebagai sukrosa diperoleh dari nira, tebu, bit gula, atau aren. Meskipun demikian, terdapat sumber-sumber gula minor lainnya, seperti kelapa. Sumber-sumber pemanis lain, seperti umbi dahlia, anggir, atau jagung, juga menghasilkan semacam gula/pemanis namun bukan tersusun dari sukrosa. Proses untuk menghasilkan gula mencakup tahap ekstrasi (pemerasan) diikuti dengan pemurnian melalui distilasi (penyulingan).                                                                         
Negara-negara penghasil gula terbesar adalah negara-negara dengan iklim hangat seperti  Australia, Brazil, dan Thailand. Hindia-Belanda (sekarang Indonesia) pernah menjadi produsen gula utama dunia pada tahun 1930-an, namun kemudian tersaingi oleh industri gula baru yang lebih efisien. Pada tahun 2001/2002 gula yang diproduksi di negara berkembang dua kali lipat lebih banyak dibandingkan gula yang diproduksi negara maju. Penghasil gula terbesar adalah Amerika Latin, negara-negara Karibia, dan negara-negara Asia Timur.                              
Lain halnya dengan bit, gula bit diproduksi di tempat dengan iklim yang lebih sejuk, Eropa Barat Laut dan Timur, Jepang utara, dan beberapa daerah di Amerika Serikat, musim penumbuhan bit berakhir pada pemanenannya di bulan September. Pemanenan dan pemrosesan berlanjut sampai Maret di beberapa kasus. Lamanya pemanen dan pemrosesan dipengaruhi dari ketersediaan tumbuhan, dan cuaca. Bit yang telah dipanen dapat disimpan untuk di proses lebih lanjut, namum bit yang membeku tidak bisa lagi diproses.                                                      
Pengimpor gula terbesar adalah Uni Eropa. Peraturan pertanian di EU menetapkan kuota maksimum produksi dari setiap anggota sesuai dengan permintaan, penawaran, dan harga. Sebagian dari gula ini adalah gula "kuota" dari industry levies, sisanya adalah gula "kuota c" yang dijual pada harga pasar tanpa subsidi. Subsidi - subsidi tersebut dan pajak impor yang tinggi membuat negara lain susah untuk mengekspor ke negara negara UE, atau bersaing dengannya di pasar dunia. Amerika Serikat menetapkan harga gula tinggi untuk mendukung pembuatnya, hal ini mempunyai efek samping namun, banyak para konsumen beralih ke sirup jagung (pembuat minuman) atau pindah dari negara itu (pembuat permen). Pasar gula juga diserang oleh harga sirup glukosa yang murah. Sirup tersebut di produksi dari jagung (maizena), Dengan mengkombinasikannya dengan pemanis buatan pembuat minuman dapat memproduksi barang dengan harga yang sangat murah.
Sejarah singkat pergulaan di Indonesia                                                      
Sumber gula di Indonesia sejak masa lampau adalah cairan bunga (nira) kelapa atau enau, serta cairan batang tebu. Tebu adalah tumbuhan asli dari Nusantara, terutama di bagian timur. Ketika orang-orang Belanda mulai membuka koloni di Pulau Jawa kebun-kebun tebu monokultur mulai dibuka oleh tuan - tuan tanah pada abad ke-17, pertama di sekitar Batavia, lalu berkembang ke arah timur.                     
Puncak kegemilangan perkebunan tebu dicapai pada tahun-tahun awal 1930-an, dengan 179 pabrik pengolahan dan produksi tiga juta ton gula per tahun. Penurunan harga gula akibat krisis ekonomi merontokkan industri ini dan pada akhir dekade hanya tersisa 35 pabrik dengan produksi 500 ribu ton gula per tahun. Situasi agak pulih menjelang Perang Pasifik, dengan 93 pabrik dan prduksi 1,5 juta ton. Seusai Perang Dunia II, tersisa 30 pabrik aktif. Tahun 1950-an menyaksikan aktivitas baru sehingga Indonesia menjadi eksportir netto. Pada tahun 1957 semua pabrik gula dinasionalisasi dan pemerintah sangat meregulasi industri ini. Sejak 1967 hingga sekarang Indonesia kembali menjadi importir gula.              
Macetnya riset pergulaan, pabrik-pabrik gula di Jawa yang ketinggalan teknologi, tingginya tingkat konsumsi (termasuk untuk industri minuman ringan), serta kurangnya investor untuk pembukaan lahan tebu di luar Jawa menjadi penyebab sulitnya swasembada gula.   Pada tahun 2002 dicanangkan target Swasembada Gula 2007. Untuk mendukungnya dibentuk Dewan Gula Indonesia pada tahun 2003 (berdasarkan Kepres RI no. 63/2003 tentang Dewan Gula Indonesia). Target ini kemudian diundur terus-menerus
Tepungketan                                                                                                                                    tepung ketan dapat di bedakan secara fisik maupun secara nimia. Sifat – sifat fisik tepung ketan berwarna putih kalau di masak akan lengket dan berbau aromatik. Secra kimia tepungf ketan merupakan tepung yang sebagian patinya terdiri dari amilopektim. Perbandingakan amilosa dan amilopektim adalah 2 % : 98%. Pada pembuatan dodol wortel tepung ketan berfungsi untuk sebagai bahan pembentuk tekstur.
IV.    Alat dan Bahan
-          Alat
a.    Kompor
b.    Wajan
c.    Sendok
d.   Nampan plasti

-          Bahan
a.    2 kg wortel
b.    1,25 kg gula pasir
c.    300 gr tepung ketan
d.   Garam secukupnya
e.    600 cc santan kental
f.     Vanili secukupnya




V.               Cara Kerja





1.Wortel di rendam air panas selama 15menit, kemudian wortel di parut
   2. Campur santan, gula dan garam direbus sampai kental dan masukkan wortel   yang   sudah di campur tepung ketan dan vanili
3. Terus di aduk sampai kalis danbolak – balik
4. Kemudian angkat di taruh di nampan dan setelah dingin di potong – potong
5. Dodol siap untuk di sajikan
VI.               Hasil Pengamatan
Air kelapa yang telah di tambahkan gula, di aduk sampai larut , masukkan wortel yang sudah di haluskan lalu tambahkan tepung ketan dan yang terakhir tambahkan vanili. Aduk samapi bahannya menjadi kalis selama 3 jam tekstur yang di dapat untuk hasil akhirnya 





VII.              Persamaan Reaksi

                 Terlampir



VIII.               Pembahasan
Dodol wortel merupakan upaya baru dalam proses pembaruan pangan. Pembuatan dodol wortel sama halnya dengan pembuatan dodol biasa dengan menggunakan penambahan tepung ketan, santan, gula dan lain –lain serta penambahan wortel. Dalam proses pengelolaan pembuatan dodol wortel dan dodol biasa tidak memiliki perbedaaan, dimana proses penting dalam pengelolaan dodol adalah karamelisasi dan gelatinisasi. Karemilisasi mengakibatkan dodol berwarna coklat hal ini di akibatkan karena terpecahnya molekul sukrosa menjadi fruktosa ( kehilangan molekul air ) dan glukosa akibatnya lama – kelamaan akan lebih kaku dan kecoklatan. Proses glatinisasi membuat tekstur dodol menjadi liat dan kenyal karena terjadinya peningkatan visiksikonitas di sebabkan air yang dulunya berada di luar granula dan bebas bergerak sebelum di panaskan, kini sudah berada dalam butir – butir pati dan tidak dapat bergerak bebas lagi, sehingga terbentuklah dodol yang liat dan kenyal. 
Untuk dodol biasa dan dodol wortel aromanya  sama karena aroma wortel berasal dari senyawa terpenoid carotol yang hanya tahan pada suhu 140oC sementara suhu pemasakan dodol mencapai suhu 173oC – 180oC sehingga aroma wortel tidak ada lagi 




Walau demikian tetap ada perbedaan antara dodol wortel dan dodol biasa antara lain sebagai berikut :
1.        tekstur                                                                                                        
tekstur dodol biasa lebih liat dan lebih halus karena bahan pokoknya tepung ketan yang  strukturnya lebih halus. Selain itu karena tepung ketan lebih banyak mengandung amilopektim sehingga strukturnya lebih liat dan kenyal sedangkan dodol wortel perbandingan wortel dan ketan lebih banyak wortel yang kadar amilopektinya termasuk kecil, sehingga tekstur dodol wortel lebih lembut, kurang liat dan cendrung lebih kasar karena terdapat serat – serat dari wortel
2.        serat fiber                                                                                                   
dodol wortel dengan dodol biasa perbedaannya yaitu dodol wortel memiliki serat yang berasal dari dinding sel umbi wortel yang di tambahkan sedangkan dodol biasa tidak terdapat serat kasar.
3.        vitamin A
       dodol biasa tidak memiliki komposisi gizi mengandung vitamin A sedangkan dodol wortel terdapat vitamin A yang berasal dari beta karoten dan beta karoten tahan terhadap suhu panas 181oC                                    

Dodol wortel menggandung minyak yang berasal  dari santan maka tidak akan lengket namun dapat menimbulkan ketengian terjadi karena oksidasi lemak tak jenuh mmenjadi senyawa – senyawa aldehid dan asam lemak yang memiliki rantai karbon lebih pendek. Dodol wortel menggandung karbohidrat sehingga baik untuk pertumbuhan mikroba.
Pada lemak dan minyak terkandung enzim lifase, enzim lifase menghidrolisis lemak, memecahnya menjadi gliserol dan asam lemak




XI.               Kesimpulan
·         Dodol wortel merupakan upaya baru dalam proses pembaruan pangan
·         Dalam proses pengelolaan pembuatan dodol wortel dan dodol biasa tidak memiliki perbedaaan, dimana proses penting dalam pengelolaan dodol adalah karamelisasi dan gelatinisasi
·         Karemilisasi mengakibatkan dodol berwarna coklat hal ini di akibatkan karena terpecahnya molekul sukrosa menjadi fruktosa ( kehilangan molekul air ) dan glukosa akibatnya lama – kelamaan akan lebih kaku dan kecoklatan.
·         Proses glatinisasi membuat tekstur dodol menjadi liat dan kenyal karena terjadinya peningkatan visisikonitas di sebabkan air yang dulunya berada di luar granula dan bebas bergerak sebelum di panaskan
·         Dodol wortel menggandung minyak yang berasal  dari santan maka tidak akan lengket namun dapat menimbulkan ketengian terjadi karena oksidasi lemak tak jenuh mmenjadi senyawa – senyawa aldehid dan asam lemak yang memiliki rantai karbon lebih pendek.






LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
 RARA SANTI YONATHA THRESIA
I. Nama Percobaan              :  Penentuan Kadar Tirosina Dalam Kaseina
II. Hari/Tanggal                    :  Jum’at/ 27 Juni 2011
III. Tujuan Percobaan         : Menentukan kadar tirosin dalam kasein serta dapat membuat kurva kalibrasinya.
IV. Landasan Teori              :
Protein merupakan komponen utama dalam semua sel hidup. Fungsinya terutama ialah sebagai unsur pembentuk struktur sel, misalnya dalam rambut, wol, kolagen, jaringan penguhubung , membran sel, dan lain-lain. Selain itu dapat pula berfungsi sebagai katalis proses biokimia dalam sel. Protein aktif selain enzim, yaitu hormon, pebawa O2 (hemoglobin). Protein yang terikat pada gen, toksin, antibody/antigen, dan lain-lain. Protein dapat diklasifikasikan atas dasar beberapa kriteria, misalnya berdasarkan fungsinya, kelarutan, konformasi dan sebagainya
Salah satu fungsi protein adalah sebagai protein cadangan (makanan/nutrien). Protein cadangan disimpan untuk berbagai proses metabolisme dalam tubuh. Sebagai contoh misalnya : ovalbumin, merupakan protein yang terdapat pada putih telur; kasein , merupakan protein susu; feritin merupakan tempat cadangan besi dalam limpa; zein merupakan protein dalam biji jagung.  Kasein merupakan protein nutrien dan penyimpan, dan merupakan protein yang paling utama dalam susu, yang jumlahnya kira-kira 80 % dari total protein yang ada dalam susu. Protein susu terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu kasein yang dapat diendapkan oleh asam dan renin dan protein whey yang dapat mengalami denaturasi oleh panas pada suhu kira-kira 65o C. Kasein terdapat dalam bentuk kasein kalsium, senyawa kompleks dari kalsium fosfat dan terdapat dalam bentuk partikel-partikel kompleks koloid yang disebut Micelles.
Dalam kasein terdapat asam amino yaitu Tyrosin (Tyr).  Tyrosin merupakan salah satu dari tujuh asam amino yang mempunyai gugus -R polar tetapi tidak bermuatan. Gugus R dari asam amino polar lebih larut di dalam air atau lebih hidrofilik dibandingkan asam amino non polar, karena golongan ini mengandung gugus fungsional yang membentuk ikatan hidrogen dengan air. Polaritas tyrosin disebabkan oleh gugus hidroksil yang terdapat didalamnya..
          Protein juga memiliki molekul besar dengan bobot molekul bervariasi antara 5000 sampai jutaan. Dengan cara hidrolisis oleh asam atau oleh enzim, protein akan menghasilkan asam-asam amino. Ada 20 jenis asam amino yang terdapat dalam molekul protein. Asam-asam amino ini terikat satu dengan yang lainnya oleh ikatan peptida. Protein mempunyai sifat yang sangat dipengaruhi oleh suhu tinggi, pH, dan pelarut organik.
          Jenis asam amino yang kita gunakan adalah Tirosin dengan rumus :

Tirosin adalah salah satu jenis asam amino dalam protein. Tirosin ini mempunyai gugus fenol dan bersifat asam lemah. Tirosin dapat diperoleh dari kasein, yaitu protein dalam keju atau susu.
          Pada percobaan ini kita akan melakukan pemurnian tirosin dari kaseinnya dengan melarutkan tirosin ke dalam berbagai larutan yang bersifat asam, alkohol, maupun senyawa yang mengandung logam berat. Dengan demikian, kita harus memperhatikan sifat-sifat protein antara lain :

1.      ionisasi
seperti asam amino, protein juga larut dalam air akan membentuk ion yang mempunyai muatan positif dan negatif. Dalam suasana asam molekul protein akan membentuk ion positif, sedangkan dalam suasana basa akan membentuk ion negatif. Pada titik isolistriknya protein mempunyai muatan positif dan negatif yang sama, sehingga tidak bergerak kearah elektroda positif maupun negatif apabila ditempatkan diantara kedua elektrode tersebut. Ionisasi protein dapat digambarkan sebagai berikut
protein+                               H+   +  +protein-
kation                                                  ion zwitter
protein memiliki titik isolistrik yang berbeda-beda sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut :
Tabel Titik Isolistrik Berbagai Protein :
Protein
Sumber
pH isolistrik
Albumin telur
Telur
4,55 – 4,90
Insulin
Pancreas
5,3 – 5,35
Albumin serum
Darah
4,88
Kasein
Susu sapi
4,6
Gelatin
Kulit sapi
4,8 – 4,85
Globulin serum
Darah
5,4 – 5,5
Fibroin
Sutera
2,0 – 2,4
Gliadin
Terigu
6,5
           
Titik isolistrik protein mempunyai arti penting karena pada umunya sifat fisika, dan kimia erat hubungannya dengan pH isolistrik. Pada pH diatas titik isolistrik protein bermuatan positif, sedangkan di bawah titik isolistrik protein bermuatan negatif.
          Oleh karena itu untuk mengendapkan protein dengan ion logam, diperlukan pH larutan diatas titik isolistrik, sedangkan pengendapan oleh ion negatif memerlukan pH dibawah titik isolistrik. Ion-ion posisitf yang mengendapkan protein antara lain ialah Ag+, Ca++, Zn++, Hg++, Fe++, CU++, dan Pb++, sedangkan ion negatif yang dapat mengendapkan protein adalah ion salisilat, triklorasetat, pikrat, tanat dan sulfosalisilat. Berdasarkan sifat tersebut putih telur atau susu dapat digunakan sebagai antidotum atau penawar racun apabila orang keracunan logam berat.

2.      Denaturasi
Protein akan mengalami koalgulasi apabila dipanaskan pada suhu 50oC  atau lebih. Koagulasi ini hanya terjadi apabila larutan protein berada pada titik isolistriknya. Protein yang  terdenaturasi pada titik isolistriknya masih dapat larut pada pH di luar titik isolistrik tersebut. Air ternyata diperlukan untuk proses denaturasi oleh panas. Disamping pH, susu tinggi dan ion logam berat, denaturasi dapat pula terjadi oleh adanya gerakan mekanik, alkohol aseton, eter dan detergen.
Denaturasi suatu protein adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh terkacaunya ikatan hidrogen dan gaya-gaya sekunder lain yang mengutuhkan molekul itu. Akibat suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat biologis protein itu. Salah satu faktor yang menyebabkan denaturasi suatu protein ialah perubahan temperatur. Memasak putih telur merupakan contoh denaturasi yang tak reversibel. Suatu putih telur adalah cairan tak berwarna yang mengandung albumin, yakni protein globular yang larut. Pemanasan putih telur akan mengakibatkan albumin itu membuka lipatan dan mengendap; dihasilkan suatu zat padat putih.
 Perubahan pH juga dapat menyebabkan denaturasi. Bila susu menjadi asam, perubahan pH yang disebabkan oleh pembentukan asam laktat akan menyebabkan penggumpalan susu (curdling), atau pengendapan protein yang semula larut. Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan denaturasi adalah detergen, radiasi, zat pengoksidasi atau pereduksi (yang dapat mengubah hubungan S – S), dan perubahan tipe pelarut.
Beberapa protein (kulit dan dinding-dalam saluran pencernaan, misalnya) sangat tahan terhadap denaturasi, sedangkan protein-protein lain sangat peka. Denaturasi dapat bersifat reversibel jika suatu protein hanya dikenai kondisi denaturasi yang lembut, seperti sedikit perubahan pH. Jika protein ini dikembalikan ke lingkungan alamnya, protein ini dapat memperoleh kembali struktur lebih tingginya yang alamiah dalam suatu proses yang disebut renaturasi. Sayang denaturasi umumnya sangat lambat atau tidak terjadi sama sekali. Salah satu permasalahan dalam penelitian protein ialah bagaimana mempelajari protein tanpa merusakkan struktur lebih tingginya (struktur protein tersebut).

3.      Viskositas
Viskositas adalah tahanan yang timbul karena adanya gesekan antara molekul-molekul di dalam zat cair yang mengalir. Suatu larutan protein dalam air mempunyai viskositas atau kekentalan yang relatif besar daripada viskositas air sebagai pelarutnya.


4.      Kristalisasi
Banyak protein yang telah diperoleh dalam bentuk kristal. Meskipun demikian proses kristalisasi untuk berbagai jenis protein tidak selalu sama, artinya ada yang dengan mudah dapat terkristalisasi, tetapi ada pula yang sukar.

5.      Sistem Koloid
Molekul protein apabila dilarutkan dalam air mempunyai sifat koloid, yang tidak dapat menembus membran atau kertas perkamen.

Pemurnian Protein
            Langkah awal yang dalam pemurnian protein ini ialah menentukan bahan alam yang akan diproses. Penentuan ini didasarkan pada kadar protein yang terkandung didalamnya. Tentu saja dipilih bahan alam yang mempunyai kadar protein tinggi dan mudah diperoleh. Analisis terhadap kadar protein dalam bahan alam tersebut perlu dilakukan untuk memperoleh data tentang kadar protein yang akan dimurnikan. Setelah itu protein akan dilarutkan ke dalam air atau pelarut lainnya. Namun, disini juga harus diperhatikan susu dan pH larutan agar tidak merusak protein.
            Dalam percobaan ini untuk menentukan kadar atau konsentrasi protein ini kita menggunakan spektrometer yang berfungsi untuk menentukan transmittan maupun adsorbannya.

V. Alat dan Bahan
v  Alat :
-          Tabung reaksi
-          Beker gelas
-          Spektrometer
-          Erlenmeyer
-          Refluks kondensor
-          Penangas air
-          Statif dan klem
-          Pipet tetes
·        Bahan :
-          Kasein 1 gram
-          NaOH 6 N
-          H2SO4 7 N
-          Larutan Tirosina standard 1.0 mg/ ml
-          HgSO4 (5%) dalam H2SO4 5 N
-          NaNO2 (0,2%)
-          12 ml air

VI. Prosedur Percobaan
Hidrolisa 1,0 gram kaseina dengan 20, 0 ml NaOH 6 N pada refluks kondensor dalam penangas air selama 4 jam. Tambahkan hati-hati 30 ml H2SO4 7 N. campur. Tempatkan 1,0 ml hidrolisat ke dalam tabung yang bersih dan kering. Pada tabung-tabung lain pipet masing-masing 1,0 ml larutan tirosina standar dengan lima macam kadar yang berbeda. Tambahkan 3 ml HgSO4 5 % dalam H2SO4 5 N pada semua tabung. Panaskan dalam penangas air yang mendidih selama 10 menit. Dinginkan dan tambahkan ke dalam masing-masing tabung 2 ml H2SO4 7 N dan 2 ml NaNO2 0,2 %. Campur dan tambahkan 12 ml air ke dalam masing-masing tabung. Baca ekstingsinya pada spektrometer dengan maks = 470 nm.

XI. Kesimpulan
  1. Tirosin merupakan salah satu asam amino yang terdapat dalam protein yaitu kasein yang utama terdapat dalam susu. Tirosin ini memiliki gugus Fenol dan bersifat asam lemah.
  2. Alat spektrofotometer ini menggunakan cahaya UV-Vis yang menggunakan warna dalam penganalisisannya.
  3. Semakin besar konsentrasi larutan asam amino maka semakin besar pula nilai adsorbannya
  4. Kasein dihidrolisa dengan NaOH, kasein akan tercampur dan terikat secara sempurna dalam suhu yang stabil sehingga larutan bersifat basa.
  5. Dengan penambahan basa pada asam amino menyebabkan konsentrasi OH- mengikat ion-ion H+yang terdapat pada gugus –NH3+.
  6. Ditambahkan NaNO2 pada larutan tirosin untuk memberikan warna merah pada larutan protein standar.












LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
 RARA SANTI YONATHA THRESIA
I.    Nama Percobaan                   : Uji Karbohidrat
II.   Hari/ Tanggal                        : Jumat/  17  Juni 2011
III. Tujuan Percobaan          : Mengetahui Perubahan yang terjadi pada Glukosa, Galaktosa,     Sukrosa dan Starch dengan Penambahan Fehling A dan fehling B
IV. Landasan Teori
       Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen. Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasil energi di dalam tubuh. Tiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal dan energi hasil proses oksidasi (pembakaran) karbohidrat ini kemudian akan digunakan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi-fungsinya seperti bernafas, kontraksi jantung dan otot serta juga untuk menjalankan berbaga aktivitas fisik seperti berolahraga atau bekerja.
Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehid atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi oleh n molekul air. Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus atau sulfur.
Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut  monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-cabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida (rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida).
Molekul karbohidrat terdiri atas atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2 : 1 seperti pada molekul air. Sebagai contoh molekul glukosa mempunyai rumus kimia C6H12O6, sedangkan rumus sukrosa adalah C12H22O11. Pada glukosa tampak bahwa jumlah atom hidrogen berbanding jumlah atom oksigen ialah 12 : 6 atau 2 : 1, sedangkan pada sukrosa 22 : 11 atau 2 : 1.
Ada beberapa senyawa yang mempunyai rumus empiris seperti karbohidrat, tetapi bukan karbohidrat, misalnya C2H4O2 adalah asam asetat atau hidroksiasetaldehida, sedangkan formaldehida mernpunyai rumus CH2O atau lazim ditulis HCHO. Dengan demikian senyawa yang termasuk karbohidrat tidak hanya ditinjau dari rumus empirisnya saja, tetapi yang penting ialah rumus strukturnya.
Dari rumus struktur akan terlihat bahwa ada jugus fungsi penting yang terdapat pada molekul karbohidrat. Gugus-gugus fungsi itulah yang menentukan sifat senyawa tersebut. Berdasarkan gugus yang ada. pada molekul karbohidrat, maka karbohidrat dapat didefinisikan sebagai polihidroksialdehida atau polihidroksiketon serta, senyawa yang menghasilkannya pada proses hidrolisis. Sehubungan dengan itu berikut ini dibahas struktur molekul senyawa yang termasuk karbohidrat.
Berbagai senyawa yang termasuk kelompok karbohidrat mempunyai molekul yang berbeda-beda ukurannya, yaitu dari senyawa yang sederhana yang mernpunyai berat molekul 90 hingga senyawa yang mempunyai berat molekul 500.000 bahkan lebih. Berbagai senyawa itu dibagi dalam tiga golongan, yaitu golongan monosakarida, golongan oligosakarida dan golongan polisakarida.
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hidrogen dan oksigen yang terdapat dalarn alam. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH20; misalnya, rumus molekul glukosa. ialah C6H12O6 (enam kali CH20). Senyawa ini pemah disangka "hidrat dari karbon," sehingga disebut karbohidrat. Dalam tahun 1880-an disadari bahwa gagasan "hidrat dari karbon" merupakan gagasan yang salah dan karbohidrat sebenarnya adalah polihidroksi aldehida dan keton atau turunan mereka.
Karbohidrat sangat beranekaragam sifatnya. Misalnya, sukrosa (gula pasir) dan kapas, keduanya adalah karbohidrat. Salah satu perbedaan. utama antara pelbagai tipe karbohidrat ialah ukuran molekulnya. Monosakarida (sering disebut gula sederhana) adalah satuan karbohidrat Yang tersederhana; mereka takdapat dihidrolisis menjadi molekul karbohidrat yang lebih kecil. Sukrosa adalah suatu disakarida yang dapat dihidrolisis menjadi satu satuan. glukosa. dan satu satuan. fruktosa. Monosakarida dan disakarida larut dalam air dan umumnya terasa manis.
Karbohidrat yang tersusun dua sampai delapan satuan monosakarida dirujuk sebgai oligosakarida. Jika lebih dari delapan satuan monosakarida diperoleh dari hidrolisis, maka karbohidrat tersebut disebut polisakarida. Contoh polisakarida adalah pat,I, yang dijumpai dalam gandum dan tepung jagung, dan selulosa, penyusun yang bersifat serat dari tumbuhan dan komponen utama dari kapas.
Karbohidrat dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar yaitu karbohidrat sederhana (monosakarida) dan karbohidrat kompleks (disakarida, polisakarida).
A.       Karbohidrat Sederhana (Monosakarida)
Monosakarida adalah suatu karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi molekul yang lebih sederhana lagi. Glukosa dan fruktosa termasuk ke dalam golongan monosakarida. Monosakarida dapat diklasifikasikan, apakah mengandung gugus ketosa atau aldosa.
Awakan aldo dan keto menunjukkan gugus aldehid atau keton di dalam suatu sakarida, sedangkan akhiran –osa menunjukkan karbohidrat. Jumlah atom karbon dalam karbohidrat ditunjukkan dengan menggunakan tri, tetra, penta, heksa, dan seterusnya. Kriteria penggolongan monosakarida juga ditentukan berdasarkan jumlah atom karbon asimetris pembentuknya, contohnya:
C-3, gliseraldehid mempunyai satu atom C*
C-4, eritrosa mempunyai dua atom C*
C-5, ribosa mempunyai tiga atom C*
C-6, glukosa mempunyai empat atom C*,
 sedangkan fruktosa mempunyai tiga atom C*


B.       Karbohidrat Kompleks (Disakarida, Polisakarida)
Karbohidrat kompleks adalah karbohidrat yang terbentuk dari dua atau lebih monosakarida. Sukrosa merupakan disakarida yang terdiri dari dua molekul monosakarida. Selulosa merupakan polisakarida karena terbentuk dari beberapa molekul glukosa yang berikatan bersama-sama. Jika dihidrolisis polisakarida akan terurai menjadi molekul-molekul monosakaridanya. Rumus umum polisakarida yaitu C6(H10O5)n.
a.         Disakarida
Disakarida adalah suatu karbohidrat yang jika dihidrolisis menghasilkan dua molekul monosakarida. Beberapa contoh disakarida adalah sebagai berikut:
·           Maltosa
Maltose dapat diperoleh sebanyak 81% dari hidrolisis pati dengan menggunakan enzim amilase. Maltosa dengan rumus C12H22O11 dapat mereduksi pereaksi Fehling/Tollens, oleh karena itu disebut gula pereduksi.maltosa juga dapat bereaksi dengan fenilhidrazina menghasilkan osazon. Selain itu, jika direaksikan dengan Br2/H2O akan membentuk asam monokarboksilat.
·           Sukrosa
Sukrosa biasa dikenal sebagai gula meja, dapat diperoleh dari tanaman sugar cane dan sugar beet (kentang/umbi manis). Sukrosa mempunyai rumus molekul C12H22O11. Sukrosa tidak dapt mereduksi pereaksi TollensFehling/Benedict dan juga tidak dapat membentuk osazon.
·           Laktosa (Gula Susu)
Laktosa merupakan jenis disakarida alami kedua setelah sukrosa yang kelimpahannya di alam paling besar. Laktosa merupakan gula yang terdapat di dalam air susu ibu (ASI) dan pada hewan menyusui. Laktosa memiliki struktur C12H22O11. Laktosa termasuk dalam golongan gula pereduksi. Laktosa dapat bereaksi dengan fenilhidrazina membentuk osazon, dapat melakukan mutarotasi dan dapat dihidrolisis.
·           Selobiosa
Selobiosa merupakan disakarida yang kelimpahannya di alam cukup banyak setelah sukrosa dan laktosa. Selobiosa didapatkan dari hidrolisis selulosa. Sifat kimia dan strukturnya hamper mirip dengan sifat-sifat kimia dan struktur dari maltosa, sedangkan perbedaannya terletak pada ikatan glikosida.
b.        Polisakarida
Polisakarida merupakan senyawa polimer yang terdiri dari ratusan bahkan sampai ribuan molekul (monomer/mer) monosakarida. Polisakarida merupakan polimer yang terbentuk di alam. Ada tiga jenis polisakarida yang paling bayak di temukan, yaitu:
·           Selulosa
Selulosa merupakan komponen utama kayu dan serat tanaman, sedangkan katun yang berasal dari kapas merupakan selulosa murni. Selulosa tidak larut dalam air, dan bukan merupakan karbohidrat pereduksi. Selulosa umumnya terdiri dari sekitar 300.000 satuan monomer dan mempunyai berat molekul berkisar dari 250.000 sampai lebih dari 1.000.000 g/mol, dengan rumus molekul (C5H10O5)n.
·           Pati
Pati merupakan cadangan karbohidrat bagi tranaman, dan seperti halnya selulosa, pati juga dapat terhidrolisis dalam suasana asam. Sumber utama pati adalah beras, singkong, jagung, gandum, kentang, ketela, umbi dan lain-lain. Molekul pati umumnya terdiri dari 20% amilosa dan 80% amilopektin. Namun ada juga jenis pati yang hanya terdiri dari amilosa saja atau amilopektin saja. Pati yang juga merupakan simpanan energi di dalam sel-sel tumbuhan ini berbentuk butiran-butiran kecil mikroskopik dengan berdiameter berkisar antara 5-50 nm.
·           Glikogen
Glikogen merupakan jenis polisakarida yang strukturnya mirip dengan amilopektin, tetapi dengan tingkat percabangan yang lebih banyak daripada percabangan dalam amilopektin. Di dalam tubuh glikogen akan tersimpan di dalam hati dan otot. Kapasitas penyimpanan glikogen di dalam tubuh sangat terbatas yaitu hanya sekitar 350-500 gram atau dapat menyediakan energi sebesar 1.200-2.000 kkal. Namun kapasitas penyimpanannya ini dapat ditingkatkan dengan cara memperbesar konsumsi karbohidrat dan mengurangi konsumsi lemak atau dikenal dengan istilah carbohydrate loading dan penting dilakukan bagi atlet terutama yang menekuni cabang olahraga bersifat endurans (endurance) seperti marathon atau juga sepakbola
Manfaat karbohidrat
1.    Sumber Energi
     Fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi tubuh. Karbohidrat merupakan sumber utama energi bagi penduduk di seluruh dunia, karena banyakdi dapat di alam dan harganya relatif murah. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kkalori. Sebagian karbohidrat di dalam tubuh berada dalam sirkulasi darah sebagai glukosa untuk keperluan energi segera; sebagian disimpan sebagai glikogen dalam hati dan jaringan otot, dan sebagian diubah menjadi lemak untuk kemudian disimpan sebagai cadangan energi di dalam jaringan lemak. Seseorang yang memakan karbohidrat dalam jumlah berlebihan akan menjadi gemuk.
2.    Pemberi Rasa Manis pada Makanan
     Karbohidrat memberi rasa manis pada makanan, khususnya mono dan disakarida. Gula tidak mempunyai rasa manis yang sama. Fruktosa adalag gula yang paling manis. Bila tingkat kemanisan sakarosa diberi nilai 1, maka tingkat kemanisan fruktosa adalah 1,7; glukosa 0,7; maltosa 0,4; laktosa 0,2.
3.  Penghemat Protein
     Bila karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka protein akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi, dengan mengalahkan fungsi utamanya sebagai zat pembangun. Sebaliknya, bila karbohidrat makanan mencukupi, protein terutama akan digunakan sebagai zat pembangun.
4.  Pengatur Metabolisme Lemak
    Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang tidak sempurna, sehingga menghasilkan bahan-bahan keton berupa asam asetoasetat, aseton, dan asam beta-hidroksi-butirat.Bahan-bahan ini dibentuk menyebabkan ketidakseimbangan natrium dan dehidrasi. pH cairan menurun. Keadaan ini menimbulkan ketosis atau asidosis yang dapat merugikan tubuh.
5.  Membantu Pengeluaran Feses
     Karbohidrat membantu pengeluaran feses dengan cara emngatur peristaltik usus dan memberi bentuk pada feses. Selulosa dalam serat makanan mengatur peristaltik usus.Serat makanan mencegah kegemukan, konstipasi, hemoroid, penyakit-penyakit divertikulosis, kanker usus besar, penyakiut diabetes mellitus, dan jantung koroner yang berkaitan dengan kadar kolesterol darah tinggi. Laktosa dalam susu membantu absorpsi kalsium. Laktosa lebih lama tinggal dalam saluran cerna, sehingga menyebabkan pertumbuhan bakteri yang menguntungkan.

V. Alat dan Bahan
    Alat :
-    Tabung reaksi                                         - Penangas air (waterbath)
-    Gelas ukur                                              - Rak tabung reaksi
-    Beker gelas                                             - Pipet tetes
-    Bunsen
Bahan :
-    Glukosa              1%, 3% dan 5%
-    Galaktosa           1%, 3% dan 5%
-    Sukrosa              1%, 3% dan 5%
-    Starch (tepung) 1%, 3% dan 5%

VI. Prosedur Percobaan
Ambil 1 ml larutan karbohidrat dengan masing-masing konsentarsi masukkan dalam tabung reaksi kemudian tambahkan 1 ml fehling A dan 1 ml fehling B pada masing-masing konsentrasi kemudian campuran larutan di panaskan pada waterbath dengan suhu 60oC hingga didapatkan perubahan warna dan adanya endapan.

VII. Hasil Pengamatan

Uji Larutan
Hasil
1 ml Glukosa (1%, 3% dan 5%) +  1 ml fehling A dan 1 ml fehling B lalu dipanaskan
Larutan menjadi berwarna hijau, terdapat endapan kuning setelah beberapa lama endapan berubah menjadi merah bata. Larutan positif karbohidrat.
1 ml Galaktosa (1%, 3% dan 5%) +  1 ml fehling A dan 1 ml fehling B  lalu dipanaskan
Larutan menjadi berwarna orange, terdapat endapan kuning setelah beberapa lama endapan berubah menjadi merah bata. Larutan positif karbohidrat.
1 ml Sucrosa (1%, 3% dan 5%) +  1 ml fehling A dan 1 ml fehling B  lalu dipanaskan
Larutan menjadi berwarna biru dan terdapat endapan putih. Larutan negatif   karbohidrat.
1 ml Starch (1%, 3% dan 5%) +  1 ml fehling A dan 1 ml fehling B  lalu dipanaskan
Larutan menjadi berwarna biru dan terdapat endapan putih. Larutan negatif karbohidrat.

VIII. Reaksi Kimia

  
X.   Pembahasan
Pada percobaan percobaan kali ini tentang uji karbohidrat, dimana bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada glukosa, galaktosa, sukrosa dan Starch dengan penambahan Fehling A dan fehling B. Pereaksi fehling adalah oksidator lemah yang merupakan pereaksi khusus untuk mengenali aldehid. Pada fehling A adalah larutan CuSO4, sedangkan fehling B merupakan campuran  larutan NaOH dan kalium natrium tartrat.
Dalam percobaan Uji Fehling, sampel glukosa, galaktosa, sukrosa,dan starch  yang diuji dengan pereaksi Fehling (Fehling A + Fehling B) pada masing-masing tabung dan kemudian dipanaskan , maka pada Glukosa larutan menjadi berwarna hijau, terdapat endapan kuning setelah beberapa lama dipanaskan endapan berubah menjadi merah bata larutan positif karbohidrat. Sedangkan pada galaktosa larutan menjadi berwarna orange, terdapat endapan kuning setelah beberapa lama endapan berubah menjadi merah bata maka larutan positif karbohidrat.
Hal yang menyebabkan dihasilkannya endapan merah bata ini karena ini berasal dari Fehling yang memiliki ion Cu2+ direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan berwarna merah bata (Cu2O). Sedangkan pada sampel starch dan sukrosa yang diuji dengan pereaksi Fehling (Fehling A + Fehling B) dan kemudian dipanaskan ternyata pada starch larutan menjadi berwarna biru dan terdapat endapan putih maka larutan negatif karbohidrat. Sedangkan pada sukrosa larutan menjadi berwarna biru dan terdapat endapan putih maka larutan negatif karbohidrat.
Hal ini disebabkan karena starch merupakan polisakarida yang tidak dapat bereaksi positif dengan Fehling. starch bukanl gula pereduki yang tidak mempunyai gugus aldehid dan keton bebas, sehingga tidak terjadi oksidasi antara starch + larutan Fehling, maka tidak terbentuk endapan dan larutan tetap berwarna biru setelah dipanaskan.
Pemanasan pada reaksi ini bertujuan agar gugus aldehid pada sampel terurai ikatannya dan dapat bereaksi dengan ion OH – membentuk asam karboksilat. Cu2O (endapan merah bata) yang terbentuk merupakan hasil sampingan dari reaksi pembentukan asam karboksilat
XI. Kesimpulan
  1. Jika golongan karbohidrat direaksikan dengan fehling A dan Fehling B maka akan diperoleh endapan merah bata bila positif bereaksi dan larutan berwarna biru bila bereaksi negative
  2. Galaktosa dan glukosa masing-masing dalam larutan 1 %, 3% dan 5%. terbukti positif karbohidrat.
  3. Glukosa dan galaktosa dihasilkan endapan merah bata karena fehling yang memiliki ion Cu2+direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan berwarna merah bata (Cu2O).
  4. Pemanasan pada reaksi ini bertujuan agar gugus aldehid pada sampel terurai ikatannya dan dapat bereaksi dengan ion OH – membentuk asam karboksilat
  
Daftar Pustaka
Fessenden & Fessenden, 1982. Kimia Organik. Jilid 2. Erlangga. Jakarta
http://gudangmateri.com/2009/12/uji-karbohidrat.html






LAPORAN TETAP PRAKTIKUM BIOKIMIA

RARA SANTI YONATHA THRESIA
I.                  JUDUL PERCOBAAN        : UJI PROTEIN
II.                HARI/TANGGAL                : JUM’AT/8 APRIL 2011
III.             TUJUAN                                : -Untuk menguji kandungan yang terdapat di dalam   protein
-Untuk mengetahui cara mengidentifikasi protein melalui reaksi-reaksi uji protein.
IV.             Dasar Teori
         Protein merupakan biopolymer polipeptida yang tersusun dari sejumlah asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Protein merupakan biopolymer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur. Protein juga merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme. Protein merupakan instrumen yang mengekspresikan informasi genetik.
Protein adalah instrumen yang mengekspresikan informasi genetik. Seperti juga terdapat ribuan gen di dalam inti sel, masing-masing mencirikan satu sifat nyata dari organisme, di dalam sel terdapat ribuan jenis protein yang berbeda, masing-masing membawa fungsi spesifik yang ditentukan oleh gen yang sesuai. Protein, karenanya bukan hanya makromolekul yang berlimpah, tetapi juga amat bervariasi fungsinya.
Semua protein di dalam semua makhluk, tanpa memandang fungsi dan aktivitas biologinya, dibangun oleh susunan dasar yang sama, yaitu 20 asam amino baku, yang molekulnya sendiri tidak mempunyai aktivitas biologi. Secara cukup sederhana protein berbeda satu sama lain karena masing-masing mempunyai deret unit asam amino sendiri-sendiri. Asam amino merupakan abjad struktur protein, karena molekul-molekul ini dapat disusun dalam jumlah deret yang hampir tidak terbatas, untuk membuat berbagai protein dalam jumlah yang hampir tidak terbatas.
Dalam hubungannya dengan asam amino, protein merupakan polimer dari sekitar asam amino yang berlainan disambungkan dengan ikatan peptida, yaitu rantai pendek. Karena keragaman rantai samping yang terbentuk jika asam-asam amino tersebut disambung-sambungkan, protein yang berbeda dapat mempunyai sifat kimia yang berbeda dan struktur sekunder dan tersier yang sangat berbeda. Rantai samping itu dapat bersifat polar atau nonpolar. Kandungan bagian asam amino polar yang tinggi dalam protein meningkatkan kelarutannya dalam air. Rantai samping yang paling polar ialah rantai samping amino basa dan asam amino asam. Asam-asam amino ini terdapat dalam albumin dan globulin yang larut dalam air dengan aras yang tinggi.
Sebaliknya, protein gandum, gliadin, dan glutenin, aras kandungan rantai samping polarnya rendah dan sangat tidak larut dalam air. Asam amino asam dapat pula terdapat dalam protein dalam bentuk amidanya, glutamina dan asparagina. Hal ini meningkatkan kandungan nitrogen dari protein. Gugus hidroksil dalam rantai samping dapat terlibat dalam pembentukan ikatan ester dengan asam fosfat dan fosfat. Asam amino belerang dapat membentuk ikatan sambung silang disulfida antara rantai peptida yang bertetangga atau antara bagian yang berlainan dalam rantai yang sama. Prolina dan hidroksiprolina memaksakan pembatasan struktur yang bermakna terhadap geometri rantai peptida.Protein terdapat baik dalam produk hewan maupun dalam produk tumbuhan dalam jumlah yang berarti. Di negara yang maju, orang memperoleh sebagian besar proteinnya dari produk hewan.
Protein alam disusun oleh 20 jenis asam amino. Protein setiap organisme berbeda-beda. Ciri – ciri protein :
  • Berat molekulnya (Mr) besar, artinya protein memiliki berat molekul ribu bahkan jutaan. Oleh karena itu protein merupakan makromolekul.
  • Asam-asam amino yang merupakan protein melalui ikatan peptida (pada struktur primer), antara gugus karboksil asam amino dengan gugus amino dengan gugus amino pada asam amino lain.
  • Protein sensitive terhadap perubahan : suhu, pH, dan pelarut organic lainnya.
  • Protein sangat relatif, karena protein memiliki gugus samping yang menunjang kereaktifannya.

Struktur Protein :
1. Struktur Primer
    adalah struktur protein yang memiliki ikatan peptida
2. Struktur Sekunder
    Selain memiliki ikatan peptida, struktur ini juga membentuk ikatan hydrogen. Ikatan hydrogen antar gugus samping asam amino dengan asam amino lain. Akibatnya terjadi ikatan hydrogen, maka struktur sekunder memiliki beberapa bentuk : α – heliks, ikatan hydrogen terjadi antara asam amino satu dengan asam amino keempat.
3. Struktur Tersier
    Protein yang memiliki ikatan peptida selain itu juga memiliki ikatan disulfida.
    Ikatan yang dimiliki dapat berupa :
-          ikatan ionic
-          ikatan hydrogen
-          interaksi hidrofik
-          Interaksi vanderwals
Protein di alam berada dalam struktur : tersier, kwartener.
4. Struktur Kuartener
    Struktur protein kuartener dibentuk dari struktur tersier melalui interaksi.

Sifat Larutan Protein
1.      Sifat Asam Basa
Sifat larutan asam basa suatu protein dalam larutan, sebagian besar ditentukan oleh gugus R asam aminonya yang dapat berionisasi. Gugus NHdan COOH yang terdapat pada kedua ujung rantai polipeptida sedikit sekali menunjang sifat asam-basa protein tersebut. Karena perbedaan macam protein ditentukan oleh urutan asam amino dan konformasi polipeptidanya, maka kemungkinan ionisasi gugus R itu dipengaruhi oleh gugus tetangganya.
Seperti pada asam amoni bebas, protein juga mempunyai titik isoelektrik, yaitu pada pH yang menunjukkan jumlah muatan positif dan negatif sama dalam protein itu, sehingga pada keadaan ini daya larut protein minimum. Pada pH ini protein tidak akan bergerak bila diletakkan dalam medan listrik, pH isoelektriknya ditentukan oleh jumlah dan pK gugus R yang berionisasi. Dalam larutan yang pH nya diatas pH isoelektrik. Protein bermuatan negatif dan kanan bergerak ke anoda, pada pH sebaliknya protein bergerak ke katoda.
2.     Pemisahan Protein
Pemisahan protein dari campuran yang terdiri dari atas berbagai macam sifat asam-basa, umuran dan bentuk protein, dapat dilakukan dengan cara eletroforesis, kromatografi, pengendapan dan perbedaan kelarutannya.
-          Elektroforesis
Cara ini didasarkan pada kecepatan bergerak yang berbeda-beda dari protein dalam medan listrik, pada pH tertentu. Cara in pertama kali dilakukan oleh Arne Tiselius pada tahun 1973.
-          Kromatografi
Penentuan dan pemisahan campuran protein dengan cara kromatografi dilakukan berdasarkan prinsip yang sama seperti untuk pemisahan dan analisa asam amino.
-          Pengendapan protein sebagai garam
Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam tertentu, seperti misalnya, asam triklorasetat dan asam perklorat. Penambahan asam ini menyebabkan terbentuknya garam protein yang tidak larut. Zat pengendap lainnya adalah asam tungstat, fototungstat, dan metafosat. Protein juga dapat diendapkan dengan kation tertentu seperti Zn2+ dan Pb2+.
-          Pengendapan dengan cara perbedaan kelrutan
Berbagai protein globular mempunyai daya kelarutan yang berbeda di dalam air. Variabel yang mempengaruhi kelarutan ini adalah pH, kekuatan ion, sifat dielketrik pelarut dan temperatur.
Pemisahan protein dari campuran dengan pengaturan pH didasarkan pada harga pH isoelektrik yang berbeda-beda untuk tiap macam protein. Pada umumnya molekul protein mempunyai daya kelarutan minimum pada pH isoelektriknya. Pada Ph isoelektriknya bebrapa protein akan mengendap dari larutan, sehingga dengan cara pengaturan pH larutan, masing-masing protein dalam campuran dapat dipisahkan satu dari yang lainnya dengan teknik yang disebut pengendapan isoelektrik.
-          Denaturasi protein
Denaturasi suatu protein adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh terkacaunya ikatan hidrogen dan gaya-gaya sekunder lain yang mengutuhkan molekul itu. Akibat suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat biologis protein itu. Salah satu faktor yang menyebabkan denaturasi suatu protein ialah perubahan temperatur. Memasak putih telur merupakan contoh denaturasi yang tak reversibel. Suatu putih telur adalah cairan tak berwarna yang mengandung albumin, yakni protein globular yang larut. Pemanasan putih telur akan mengakibatkan albumin itu membuka lipatan dan mengendap; dihasilkan suatu zat padat putih.
 Perubahan pH juga dapat menyebabkan denaturasi. Bila susu menjadi asam, perubahan pH yang disebabkan oleh pembentukan asam laktat akan menyebabkan penggumpalan susu (curdling), atau pengendapan protein yang semula larut. Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan denaturasi adalah detergen, radiasi, zat pengoksidasi atau pereduksi (yang dapat mengubah hubungan S – S), dan perubahan tipe pelarut.
Beberapa protein (kulit dan dinding-dalam saluran pencernaan, misalnya) sangat tahan terhadap denaturasi, sedangkan protein-protein lain sangat peka. Denaturasi dapat bersifat reversibel jika suatu protein hanya dikenai kondisi denaturasi yang lembut, seperti sedikit perubahan pH. Jika protein ini dikembalikan ke lingkungan alamnya, protein ini dapat memperoleh kembali struktur lebih tingginya yang alamiah dalam suatu proses yang disebut renaturasi. Sayang renaturasi umumnya sangat lambat atau tidak terjadi sama sekali. Salah satu permasalahan dalam penelitian protein ialah bagaimana mempelajari protein tanpa merusakkan struktur lebih tingginya (struktur protein tersebut).


Organisasi Struktur Protein
Struktur tiga dimensi dapat dijelaskan dengan mempelajari tingkat organisasi struktur, yaitu struktur primer, sekunder, tersier dan kuartener. Berbagai interaksi yang diperlukan untuk mempertahankan masing-masing struktur tersebut merupakan pemisah tingkat organisasi satu dengan lainnya.
Rentetan asam amino dalam suatu molekul protein disebut struktur primer protein. Namun terdapat banyak hal pada struktur protein daripada hanya struktur primer. Banyak sifat suatu protein ditentukan oleh orientasi molekul sebagai suatu keseluruhan. Bentuk (misalnya suatu spiral) yang padanya suatu molekul protein menata kerangkanya, disebut struktur sekunder.
Interaksi lebih lanjut seperti halnya kerangka  untuk membentuk suatu bulatan, disebut struktur tersier atau terjadinya folding (pelipatan) rantai alpha heliks, dll. Antaraksi antara sub-unit protein tertentu, seperti antara globin-globin dalam hemoglobin, disebut struktur kuartener.

V.                ALAT DAN BAHAN
Beker gelas                -    Albumin                        - Asam Asetat 1M                  
Gelas ukur                 -    Putih telur                  
Pipet tetes                  -    Kuning telur               
Rak tabung                -    Larutan (NH4)2SO4
Corong                       -   Reagon Millon                  
Kertas saring              -   Reagon untuk uji biuret
Erlenmeyer                 -    Susu bubuk
Tabung reaksi             -    Susu cair   
             
VI.             PROSEDUR PERCOBAAN
·       Pengendapan dengan Garam
Jenuhkan 10 ml larutan protein dengan ammonium sulfat. Untuk pekerjaan ini dilakukan pertama tambahkan jumlah sedikit dari garam tersebut, aduk hingga melarut. Tambahkan lagi sedikit ammonium sulfat dan aduk lagi. Kontinu sehingga sedikit garam tertinggal tidak terlarut. Apabila larutan jenuh kemudian disaring. Uji kelarutan endapan di dalam air. Uji endapan dengan reagen millon dan filtrat dengan uji biuret.
·           Uji Koagulasi
Tanbahkan 2 tetes HOAc 1 M ke dalam 5 ml larutan protein. Letakkan tabung dalam air mendidih selama 5 menit. Ambil endapan dengan batang pengaduk. Uji kelarutan endapan di dalam air. Uji endapan dengan reagen Millon.

VII.          HASIL PENGAMATAN


VIII.       REAKSI
Pengendapan dengan Garam

IX.             PEMBAHASAN
Percobaan ini adalah percobaan uji protein yang bertujuan untuk menguji kandungan yang terdapat di dalam protein. Yang kami lakukan pada percobaan ini tentang uji pengendapan dengan garam dan uji koagulasi
Pada percobaan uji pengendapan dengan garam diperoleh endapan berwarna putih dari penambahan larutan ammonium sulfat pada larutan protein. Pengendapan ini terjadi  karena adanya penambahan ammonium sulfat yang menyebabkan terjadinya dehidrasi protein atau sering dikenal dengan kehilangan air, sehingga proses dehidrasi ini molekul protein yang mempunyai kelarutan paling kecil akan mudah mengendap. Pada uji pengendapan dengan garam kami menggunakan albumin, putih telur, kuning telur, susu bubuk dan susu cair. Pada endapan  yang diperoleh ini ditambah dengan reagen milon sehingga diperoleh endapan yang berwarna merah bata, sedangkan pada filtratnya dilakukan uji buret sehingga diperoleh larutan yang berwarna ungu.
Pada percobaan mengenai uji koagulasi digunakan albumin, putih telur,  kuning telur, susu bubuk, dan susu cair. Pertama yaitu albumin ditambah dengan asam asetat menghasilkan larutan kuning bening kemudian dipanaskan maka dihasilkan larutan kuning bening dan endapan/gumpalan (gel putih). Endapannya ditambah dengan air menghasilkan larutan bening atau larut dalam air sedangkan endapannya ditambah millon menghasilkan endapan menjadi merah bata. Kedua yaitu putih telur ditambah asam asetat kemudian dipanaskan maka dihasilkan larutan putih tidak terjadi  perubahan. ditambah air menghasilkan bening sedangkan yang ditambah millon menghasilkan endapan berbentuk gumpalan – gumpalan setelah dipanaskan hasilnya gumpalan atau endapan menjadi merah bata.  Ketiga yaitu kuning telur ditambah asam asetat kemudian dipanaskan maka dihasilkan larutan kuning bening dan endapan. Endapannya ditambah air maka menghasilkan larutan bening sedangkan endapannya ditambah millon menghasilkan endapan menjadi merah bata. Keempat yaitu susu cair ditambah asam asetat kemudian dipanaskan maka dihasilkan larutan putih keruh dan endapan. Endapannya ditambah air maka menghasilkan larutan bening atau larut dalam air sedangkan endapannya ditambah millon menghasilkan endapan menjadi merah bata. Kelima yaitu susu bubuk ditambah asam asetat kemudian dipanaskan maka dihasilkan larutan putih keruh dan endapan. Endapannya ditambah air maka menghasilkan larutan bening atau larut dalam air sedangkan endapannya ditambah millon menghasilkan endapan menjadi merah bata.  dari kelima sample yang digunakan semakin besar konsentrasi yang digunakan maka semakin besar kepekatan dan semakin banyak endapan yang didapat.  Endapan yang ditambah air dengan bertambahnya air maka endapan akan semakin larut, sedangkan endapan yang ditamabah reagon millon semakin tinggi konsentrasinya maka akan terbentuk warna nerah bata semakin banyak


X.                KESIMPULAN

1.         Pengendapan yang terjadi saat penambahan garam amonium sulfat adalah karena adanya garam-garam anorganik yang membuat kelarutan protein berkurang sehingga mengakibatkan pengendapan. Ini terjadi karena kemampuan ion garam untuk terhidrasi sehingga berkompetisi dengan molekul protein untuk mengikat air.
2.      Albumin, kuning telur, putih telur, susu bubuk, susu cair, menunjukkan positif  terhadap uji buret, dengan menghasilkan warna ungu setelah penambahan CuSO4 setelah dibakar.
3.      Protein sangat sensitif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya seperti perubahan suhu (pemanasan) dan perubahan pH yang ekstrim (penambahan asam atau basa). Sehingga protein mengalami kerusakan pada strukturnya (denaturasi).
4.      Dari semua sample yang didapatkan semakin besar konsentrasi maka semakin besar kepekatan dan endapannya semakin banyak



XI.             DAFTAR PUSTAKA
            http://id.wikipedia.org/wiki/Sintesis_protein diakses 29 Maret 2011
http://kimiadahsyat.blogspot.com/2009/07/protein-dan-asam-amino.html diakses 29 maret 2011
Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-dasar BiokimiaJakarta : Erlangga
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasat BiokimiaJakarta : UIP









LAPORAN

            I.      Judul

HUKUM HOOKE



         II.      Tujuan

a.       Agar kita dapat memahami hukum Newton pada gerak benda (glb dan glbb)

b.      Dapat menyelesaikan soal – soal yang berkaitan dengan hukum Newton.



     III.      Landasan teori

Hukum hooke suatu sistem dikatakan memenuhi hukum hooke jika gaya pemulih sebanding dengan besar simpangan. Simpangan sering disebut dengan distorsi.
            Sebuah balok yang massanya m dan diikat pada ujung pegas. Pada balok itu tidak diberi gaya, baik tarikan ataupun dorongan, sehingga posisi balok berada di x = 0 (gambar a). posisi  balok di x = 0 disebut posisi kesetimbangna. Pada posisi kesetimbangan pegas tidak betambah panjang ataupun pendek. Ketika beban ditarik ke kanan, beban akan menarik pegar (gambar b) jika gerakan kekiri beban akan menekan pegas (gambar c).


Pegas akan mengerjakan gaya pada beban untuk mengembalikan ke posisi setimbang. Jadi ketika benda ditarik ke kanan, pegas akan mengrjakan gaya peda benda tersebut yang arahnya ke kiri. Sebaliknya ketika pegas ditarik ke kiri pegas akan mengerjakan gaya pada beban tersebut yang arahnya ke kiri.



Pegas (spring) hooke ialah pegas yang memenuhi hukum hooke. Apabila pegas demikian ditarik (diperpanjang) sebanyak x, gaya pemulih yang dilakukan pegas (juga disebut gaya pegas) adalah

F = - k  x 




Di sini k adalah suatu konstanta positif disebut tetapan gas (spring constant). Satuan k adalah N/m atau lb/ft; k menggambarkan kakunya sesuatu pegas. Hampir semua pegas memenuhi hukum hooke di atas,selama simpangan x tidak terlalu besar. Jika pegas ditekan maka x adalah negative.

            Hukum hooke sanggat akurat sepanjang pegas tidak ditarik melebihi elastisitasnya. Jika seutas karet ditarik dengan gaya yang besarnya tertentu, karet akan bertambah panjang, akan tetapi kija gaya itu dihilangkan karet akan kembali ke keadaan mula-mula. Ketika karet itu ditarik dengan gaya yang lebih bsar jika gaya dihilanggkan karet tidak kembali ke keadaan mula-mula., tetapi karet menjadi cacat yaitu panjangnya bertambah. Jika gaya tarikan diperbesar terus maka keret akan putus.

            Peristiwa ini terjadi juga pada pegas yang salah satu  ujungnya dipasangkan statif, sedangkan ujung yang lain dibiarkan bebas. Jika ujung pegas ini digantungkan beban, pegas bertambah panjang. Akan tetapi jika gaya itu dihilangkan, pegas akan kembali ke keadaan mula-mula.demikian pula jika beban yang digantungkan pada ujung pegas tersebut terus diperbesar maka pegas akan rusak. 

Menguntungkan sekali jika hukum hooke ditulis sehubungan dengan gaya luar Fluar yakni gaya yang diperlukan agar pegas memanjang  sebanyak c. gaya luar ini adalah sama besar dengan gaya pemulih di atas, namun berlawanan arah, maka
Fluar = k x
Besarnya gaya yang diberikan pada benda memiliki batas-batas tertentu. Jika gaya sangat besar maka regangan benda sangat besar sehingga akhirnya benda patah. Hubungan antara gaya dan pertambahan panjang (atau simpangan pada pegas) dinyatakan melalui grafik di bawah ini.
Jika sebuah benda diberikan gaya maka hukum Hooke hanya berlaku sepanjang daerah elastis sampai pada titik yang menunjukkan batas hukum hooke. Jika benda diberikan gaya hingga melewati batas hukum hooke dan mencapai batas elastisitas, maka panjang benda akan kembali seperti semula jika gaya yang diberikan tidak melewati batas elastisitas. tapi hukum Hooke tidak berlaku pada daerah antara batas hukum hooke dan batas elastisitas. Jika benda diberikan gaya yang sangat besar hingga melewati batas elastisitas, maka benda tersebut akan memasuki daerah plastis dan ketika gaya dihilangkan, panjang benda tidak akan kembali seperti semula; benda tersebut akan berubah bentuk secara tetap. Jika pertambahan panjang benda mencapai titik patah, maka benda tersebut akan patah.

Berdasarkan persamaan hukum Hooke di atas, pertambahan panjang (delta L) suatu benda bergantung pada besarnya gaya yang diberikan (F) dan materi penyusun dan dimensi benda (dinyatakan dalam konstanta k). Benda yang dibentuk oleh materi yang berbeda akan memiliki pertambahan panjang yang berbeda walaupun diberikan gaya yang sama, misalnya tulang dan besi. Demikian juga, walaupun sebuah benda terbuat dari materi yang sama (besi, misalnya), tetapi memiliki panjang dan luas penampang yang berbeda maka benda tersebut akan mengalami pertambahan panjang yang berbeda sekalipun diberikan gaya yang sama. Jika kita membandingkan batang yang terbuat dari materi yang sama tetapi memiliki panjang dan luas penampang yang berbeda, ketika diberikan gaya yang sama, besar pertambahan panjang sebanding dengan panjang benda mula-mula dan berbanding terbalik dengan luas penampang. Makin panjang suatu benda, makin besar besar pertambahan panjangnya, sebaliknya semakin tebal benda, semakin kecil pertambahan panjangnya. Jika hubungan ini kita rumuskan secara matematis, maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut :

Salah satu energi yang dapat dimiliki oleh sebuah benda adalah energi tang berhubungan dengan gerak; energi ini disebut energi kinetik. Untuk sebuah benda yang bermassa m dan sedang bergerak dengan kecepatan V energi ini mempunyai nilai:

   
Pada  keadaan ini jika benda tiba-tiba menumbuk pada benda lain, maka benda dengan energi kinetik ini akan mempu melakukan kerja, memindahkan sebagian energi pada benda lain, dan menyebabkan benda lain tersebut bergerak. Jika kita dapat menyatakan bahwa energi kinetik menyatakan kemampuan melakukan kerja karena geraknya.

IV.      Alat dan Bahan serta Fungsinya
§  Statif  adalah sebagai  batang penyangga untuk menggantungkan beban dan digantungkan pada pegas atau tiang dan alas pada serangkaian alat titrasi atau tempat untuk menghubungkan jepit penahan
§  Beban berfungsi untuk  pemberat pada pegas
§  Jepit penahan sebagai penahan suatu benda saat digantungkan pada statif
§  Pegas spiral sebagai tempat menggantungkan suatu benda
§  Mistar berfungsi untuk ,mengukur panjang pada skala centimeter dan millimeter

   V.      Prosedur Percobaan
a.       Gantungkan beban pada pegas (anggap berat beban adalah F0)
b.      Ukur panjang pegas ( L0)
c.       Tambahkan beban, lalu ukur panjang pegas ( L )
d.      Ulangi dengan penambahan beban bervariasi
e.       Isilah tabel berikut!

f.    Perhatikan kecendrungan masing-masing table dari atas ke bawah
h.   Bagaimana hubungan antara F dan L
i..   Gambar grafik ΔF terhadap ΔL
j.    Gunakan persamaan (teori) untuk menghitungkonstanta pegas
k.    Hitung luas daerah dibawah grafik.

VI. DATA HASIL PENGAMATAN

VII. ANALISA DATA 

VIII. Pembahasan
    Pada pratikum kali ini kami melakukan percobaan tentang Hukum Hooke, alat yang digunakan diantaranya adalah pegas, beban, statif, mistar dan jepit penahan. Dalam percobaan ini kami terlebih dahulu kita mengukur panjang pegas sebelum diberi beban. Sudah mengukur panjang pegas tersebut baru kita tambahkan beban dengan berat yang berbeda – beda. Pada saat sudah diberi beban kita ukur lagi panjang pegas tersebut, disini kami melihat panjang pegas itu mengalami perubahan, sebelum diberi beban dan sesudah diberi beban.
       . . . . . . .. . .  .. . ..... . . .. 
      Ada beberapa hal yang menyebabkan perbedaan hasil antara grafik berdasarkan percobaan dengan grafik yang seharusnya terbentuk berdasarkan teori yang pertama adalah akibat elastisitas yang berkurang pada pegas, biasanya ini diakibatkan oleh pegas yang terlalu sering digunakan. faktor kedua adalah ketelitian alat ukur dan ketelitian praktikan dalam mengamati alat ukur apabila terjadi kesalahan maka hasil yang diperoleh menjadi tidak valid.

XI.    Kesimpulan
         Kemungkinan perubahan panjang pegas terjadi karena penambahan berat beban yang diberikan. Seperti yang dinyatakan pada hukum hooke bahwa “ sebuah pegas mula-mula dalam keadaan bebas, kemudian diregangkan dengan gaya F, sehingga pegas bertambah panjang sebesar x “.
    Sebelum pegas diberi beban atau gaya maka panjang pegas tersebut masih dalam keadaan normal atau panjang pegas sebenarnya. Setelah diberikan gaya maka semakin besar gaya yang diberikan pada pegas semakin kuat, dan pertambahan panjangpun semakin besar. Hal ini menunjukkan gaya yang bekerja pada pegas sebanding dengan pertambahan pegas. 

X.     DAFTAR PUSTAKA

         Darmawan,B.1989. Fisika Edisi Kedelapan. Erlangga. Jakarta.
         Anthon J, Esomar. 1996. Pelajaran Fisika SMU kelas 1A. Jakarta: Erlangga.
         Sutrisno. 1996. Fisika Dasar. Bandung: ITB Bandung.
Tim Penyusun Fisika Dasar. 2007. Panduan Praktikum Fisika Dasar 1. Inderalaya: FKIP Unsri.
     http://www.gurumuda.com/2008/10/hukum-hukum-dan-elastisitas/
        







LAPORAN PRATIKUM
KIMIA FISIKA II

                       I.      Identitas Pratikan
     Nama                           : Rara Santi Yonatha Thresia
                                           Nina Anggraeni
      NIM                            : 56081010009
                                           56081010010
      Fakultas / Jurusan        : KIP / Pendidikan Kimia (eks)
      Judul Percobaan          : Reaksi Etil Asetat dengan OH secara konduktometri
      Asisiten Pembimbing  :

II. Latar Belakang
Etil asetat adalah pelarut yang polar menengah yang volatile dan artinya mudah menguap, tidak beracun, dan tidak higropos. Etil asetat merupakan penerima ikatan hydrogen lemah dan bukan suatu donor ikatan hydrogen karena tidak adanya proton yang bersifat asam yaitu hydrogen yang terikat pada atom elektronegatif, seperti flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 3% dan larut dalam air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar. Kelarutanya meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Namun demikian senyawa ini tidak stabil dalam air yang mengandung basa dan asam.
            Etil asetat adalah senyawa organic dengan rumus CH3OH2OC(0)CH3. senyawa ini merupkan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan yang tak bewarna dan memiliki aroma yang khas.
            Senyawa etil asetat sering disingkat EtOAc, dengan Et mewakili gugus etil dengan OAc mewakili asetat. Etil asetat diproduksi dalam skala besar sebagai pelarut.
            Percobaan ini dilakukan dengan cara konduktometri yang artinya merupakan suatu metode analisa kimia berdasarkan daya hantar listrik dari suatu larutan . daya hantar listrik dari suatu larutan itu  bergantung pada jenis dan konsentrasi ion-ion yang mudah bergerak dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion d dalam suatu larutan ion yang mudah bergerak dan mempunyai daya hantar listrikny yang besar.
            Daya hantar listrik merupakan kebalikan dari tahanan sehingga daya hantar listrik mempunyai ohm-1. pada percobaan ini kita dapat mengetahui cara penggunaan metode konduktemetri untuk menentukan orde reaksi dan konstanta kecepatan reaksi penyabunan etil asetat, pengaruh konsentrasi terhadap daya hantar, serta factor-faktor apa saja yang mempengaruhi jumlah dan kerapatan tabrakan molekul molekul zat yang bereaksi.
            Suatu reaksi juga dapat dikatakan berlangsung dengan cepat jika tabrakan antara molekul-molekul dari zat-zat yang bereaksi banyak dan sering terjadi. Salah satu cara untuk menentukan orde reaksi dan konstanta kecepatan reaksi dengan jalan melakukan pengukuran terhadap daya hantar suatu larutan selama reaksi berlangsung yang diharapkan dengan proses konduktometri ini setiap reaksi merupakan suatu tahap reaksi adalah reaksi dasar dalam memberikan produk yang menguraikan mekanisme suatu reaksi yang disebut dengan reaksi kompleks. Yang terjadi selama reaksi berlangsung.
          III.      Rumusan Masalah
1.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kecepatan reaksi?
2.      Bagaimana cara menentukan orde reaksi dan konstanta kecepatan reaksi dari suatu larutan?
3.      Apakah yang dapat menyebabkan penggunaan katalis dapat menghambat hidrolisis??
       IV.      Hipotesis
1.      Temperatur, laju reaksi, jenis zat pereaksi, konsentrasi dan katalis
2.      Cara menentukan orde reaksi dan konstanta reaksi dapat dilakukan dengan menggunakan atau mengukur daya hantar suatu larutan selama reaksi berlangsung dengan alat konduktometer.
3.      Penggunaan katalis dapat menghambat hidrolisis karena di dalam reaksinya larutan tersebut terjadi reaksi kebalikan dari hidrolisa yaitu esterifikasi fischer.
       V.      Tujuan
1.      Untuk mengaetahui prinsip kerja dari konduktormeter
2.      Untuk mengetahui factor-faktor yang dapat mempengaruhi constant reaksi
3.      Untuk menentukan orde reaksi dan konstanta kecepatan reaksi penyabunan etil asetat.
4.      Untuk mengetahui dan melihat proses dan reaksi secara langsung
          VI.      Manfaat Percobaan
1.      Mahasiswa dapat mengetahui cara menggunakan konduktometer
2.      Mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konstanta kecepatan reaksi
3.      Mahasiswa dapat mengetahui proses penyabunan dari etil asetat.
4.      Mahasiswa dapat mengetahui dan menggunakan alat secara baik dan benar.



VII.Dasar Teori

Dalam kimia ester adalah campuran organik dengan disimbolkan  R’ yang menggantikan suatu atom hydrogen atau lebih. Ester juga dibentuk dengan asamyang tidak tersusun teratur sebagai contohnya dimetil sulfat yang biasa di sebut “asam belerang” atau dimetil ester. Penamaan ester hamper menyerupai kation dengan penamaan basa, walaupun tidak benar-benar menyerupai kation dan anion namun memiliki kemiripan dalam sifat lebih elektron  positif dan keelektronegatifan.

Suatu ester dapat dibuat sebagai produk dari suatu reaksi  pemadatan pada suatu asam (pada umumnya suatu asam organik) dan suatu alcohol (atau campuran zat asam karbol) dan walaupun ada cara – cara lain untuk membentuk ester. Etil asetat dapat terhidrolisis pada keadaan ataupun basa  menghasilkan asam asetat dan etanol kembali. Katalis asam  sulfat dapat menghambat hidrolisis karena berlangsungnya reaksi kebalikan hidrolisis yaitu esterifikasi Fischer.

Untuk memperoleh rasio  hasil yang tinggi, biasanya digunakan asam kuat dengan proporsi stoikiometris, misalnya natrium hidroksida. Reaksi menghasilkan etanol dan natrium asetat yang tidak dapat bereaksi lagi dengan etanol. Reaksinya adalah


Etil asetat disintetis melalui reaksi sterifikasi fischer dari asam asetat dan etanol, seperti reaksi di atas. Reaksi di atas merupakan reaksi yang reversible dan menghasilkan suatu kesetimbangan kimia. Oleh karena itu, rasio dari reaksi di atas menjadi rendah jika air yang terbentuk  dipisahkan. Dilaboratorium, produk etil asetat yang terbentuk dapat dipisahkan dari air dengan menggunakan apparatus Dean – Stark.

Ester dapat dibuat oleh reaksi kesetimbangan antara suatu alcohol dan suatu karbon. Ester dinamain menurut kelompok alkil dari alcohol dari alcohol dan kemudian alkanot (bagian dari asam karbon). Sebagai  contoh, reaksi antara methanol dan asam butir menghasilkan  ester metal butil C3H7-COO-CH aeperti halnya air dan yang paling sederhana adalah C-COO-CH, metal metanoat. Karena ester dari asamyang lebih tinggi, alkana menyebut dengan –oat pada akhirannya. Secara umum ester dari asam berbau harum meliputi benzoate seperti metal benzoat.

Nama ester beasal dari kata Essig-At Er Jerman, sebuah nama kuno untuk menyebut etil asam cuka ester (asam cuka etil). Pemadatan adalah suatu jenis reaksi kimia yang mana dua molekul yang kecil, di dalam hal ini dua gugus OH yang merupakan hasil eliminasi suatu molekul cair.
Suatu reaksi pemadatan untuk membentuk suatu ester yang disebut esterifikasi. Esterifikasi dapat dikatalis dengan kehadiran ion H+. Asam belerang sering digunakan sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini.
Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pemadatan ester dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dengan suatu alcohol. Seuatu ester asam karoksilat mengandung gugus –CO2R dan R  yang dapat membentik alkil maupun anil. Laju esterifikasi suatu asam karboksilat bergantung pada halaman sterik dalam alcohol dan asam karboksilatnya.
Asam kuat dari asam karboksilat hanya memainkan peranan kecil dalam laju pembentukan ester. Seperti pada kebanyakan reaksi aldehida dan keton, esterifikasi suatu keton asam karboksilat berlangsung melalui  serangkaian tahap protonasi dan denotasi.
Oksigen karbonil diprotonasi, alcohol nuklofilik menyerang karbon positif dan eliminasi air akan menghasilkan ester yang dimaksud, seperti reaksi berikut ini:
Proses esterifikasi dengan asam fosfat yang berlangsung dalam tubuh kita disebut juga proses foforilasi dengan bantuan enzim esterase yang mampu mencegah ikatan ester dengan hidrolisis. Reaksi penyabunan etil asetat dapat ditulis sebagai beriku:
                  (3.1)
Reaksi penyabunan etil asetat pada umumnya mengikuti reaksi, orde reaksi dua. Secara umum dua. Secara umum persamaan kecepatan reaksinya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Saat konsentrasi awal dari etil asetat dan NaOH adalah asam (a = b) maka dari persamaan di atas dapat menjadi
dengan mengintegrasikan dari persamaan sebelumnya maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut;
                                       atau                             
Dengan:
k = konstanta kecepatan reaksi
a = konsentrasi awal NaOH dan etil asetat
t = waktu dalam detik atau menit
x = konsentrasi NaOH yang bereaksi pada saat t
            Sebelum kita mencari k pada persamaan di atas perlu  diketahui konsentrasi etil asetat atau NaOH pada saat waktu to (awal). Untuk mengetahui konsentrasi dari etil asetat NaOH pada waktu t dengan menggunakan konduktometer.
            Hal ini berdasarkan  kenyataan nya bahwa zat elektrolit dalam larutan akan menghantarkan arus listrik  dan memiliki gelembung. Jika kita lihat dari persamaan 3.1 maka daya hantar alrutan setiap zat akan turun setiap zat yang akan turun karena ion OH­- akan digantikan dengan ion asetat.
            Ini berarti telah terbentuk CHCOONa dan C2H5OH. Untuk mengamati daya hantar larutan terbentuk CH3COONa dan CH5OH. Untuk mengamati daya hantar larutan pada saat reaksi sempurna, yaitu dengan cara melakukan pengamatan daya hantar terhadap larutan CH2COONa murni.
            Oleh karena itu laju reaksi dapat diikuti secara konduktometri, sehingga persamaan dapat dituliskan bentuk ;
            
Dimana;
            Ko = daya hantar (konduktivitas) mula – mula
            Kt  = daya hantar (konduktivitas) pada saat t
            K   = daya hantar (konduktivitas) pada saat reaksi sempurna
            k    = konstanta kecepatan reaksi
            a    = konsentrasi etil asetat atau NaOH mula –mula
            t     = waktu dalam menit atau detik
            Kecepatan reaksi menentukan atau menunjukkan sesuai yang terjadi persatuan waktu, misalnya per-detik, per-menit, per-jam, per-hari, per-bulan, atau per-tahun. Dalam reaksi kimia laju reaksi (kecepatan) dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi zat pereaksi atau zat hasil reaksi tiap satuan waktu.
            Ada dua pengertian kecepatan reaksi yaitu;
-                kecepatan rata – rata
-                laju seketika atau kecepatan
Dimana kecepatan rata – rata ini menyatakan perubahan konsentrasi yang terjadi pada selang waktu tertentu. Berdasarkan reaksi di bawah ini;
Kecepatan reaksi juga dapat berdasarkan pada kecepatan berkurangnya konsentrasi molar pereaksi A dan juga dapat didasarkan pada kecepatan pembentukan B.
Dengan demikian kecepatan dapat dituliskan sebagai berikut;
                                               atau                                       
Dimana;
            V         = laju rata – rata
            A/B     = konsentrasi A dan B
 ; laju bertahannya C
 ; laju bertahannya D
Hubungan antara laju reaksi ini diberikan oleh persamaan sebagai berikut;
Sedangkan untuk laju seketika, dari suatu reaksi menyatakan laju reaksi ada pada saat tertentu, menetukan suatu reaksi menmerlukan waktu 60 menit, sedangkan laju reaksi pada menit ke 20. Laju reaksi seketika disini tidak sama besar selama reaksi berlangsung. Karena laju reaksi terus berkurang dan sampai akhirnya mencapai harga nol (0) pada akhir reaksinya.
Unruk mengamati perubahan konsentrasi dapat dilakukan secara kimia maupun fisika, dari perubahan konsentrasi secara kimia dapat dilakukan secara titrasi aatau analisa volumetric dan grafimetri. Analisa volumetric yaitu dengan penentuankonsentrasi asam – basa dalam bentuk volume didasarkan pada titrasi asam basa.
Pengukuran laju reaksi untuk reaksi yang tidak terlampau  cepat dapat digunakan dengan beberapa cara. Menentukan laju reaksi dati suatu reaksi atau enalisi dibuat pada interval waktu yang dikehendaki.  Analisis grafimetri dapat dilakukan bila suatu reaksi menghasilkan zat berupa endapan.
Contoh analisa volumetric adalah;
a.             Volumetri grafimetri yaitu hidrolisis alkali dari suatu alkali halide dimana akan terbentuk alcohol dan ion klorida.
b.            Hidrolisis hidrogen sedangkan volumetric hidrolisis ester.
Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut dengan daya hantar. Sedangkan untuk daya hantar ekivalen biasanya didefinisikan sebagai daya hantar suatu satu gram ekivalen zat terlarut antara dua elektroda dengan jarak antara kedua elektroda yaitu 1 cm.
Besarnya daya hantar ekivalen atau A ditentukan dengan mengukur daya hantar jenis larutan juga tahanan (R) larutan.  Digunakan untuk jembatan Wheatstone. Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk mengukur daya hantar. Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut daya hantar.
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik dari suatu larutan. Daya hantar listrik dari suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion yang mudah bergerak dalam larutan. Sedangkan titrasi konduktometri adalah suatu proses yang digunakan untuk menentukan titik ekivalen dari suatu larutan, sebagai contohnya titrasi konduktometri pada asam kuat dan basa kuat.
L1 . Rs   =  I2 . R2
Demikian juga dengan
L1 . Rx  =  I2 . Rs
Dimana;
Rx adalah tahanan larutan
Rs adalah tahanan standar
Dimana;
L = tahanan atau daya hantar larutan
Lo= daya hantar jenis
A = Luas (cm2)
L = Panjang (cm)
R = tahanan
P= tahanan jenis
            Tetapan cell tidak dapat diukur dengan mengukur panjang (l) dengan luas (A), tetapan ini diukur dengan menentukan terlebih dahulu tekanan ® suatu larutan. Ada emapat macam metode untuk menentukan konstanta laju reaksi dan orde reaksi, yaitu;
1. Metode Integral
            Metode ini merupakan perubahan konsentrasi dengan waktu yang diukur dan harga k yang dihitung dengan menggunakan metode integral yang berbeda akan diperoleh dari persamaan yang memberikan harga k yang konstan, ini juga dapat diperoleh dari grafik.
2. Metode Relaksasi
            Pada Metode ini dapat digunakan untuk mengkaji reaksi-reaksi cepat, serta metode ini juga merupakan campuran reaksi.
3. Metode Differensial
            Pada metode ini tidak dikumpulkan dalam bentuk konsentrai terhadap waktu, tetapi dinyatakan sebagai laju perubahan kosentrasi waktu bterhadap kosentrasi reaksan.
4. Metode Paruh Waktu
            Pada metode ini memerlukan waktu sebagai fungsi kosentrasi, jika tidak bergantung pada kosentrasi maka orde reaksi sama denga n 1. dan jika tidak kemiringan berubah.
            Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi adalah;
  1. Konsentrasi
  2. Suhu
  3. Adanya katalis
Untuk reaksi yang hitrogen, masih ada factor ini yaitu, keadaan fisik zat-zat bereaksi. Semua factor-faktor ini dapat dilihat pada waktu percobaan berlangsung.
Konduktor atau penghantar dapat berarti:
·         Konduktor listrik: material yang dapat menghantarkan arus listrik dengan mudah Penghantar dalam teknik elektronika adalah zat yang dapat menghantarkan arus listrik, baik berupa zat padat, cair atau gas. Karena sifatnya yang konduktif maka disebut konduktor. Konduktor yang baik adalah yang memiliki tahanan jenis yang kecil. Pada umumnya logam bersifat konduktif. Emas, perak, tembaga, alumunium, zink, besi berturut-turut memiliki tahanan jenis semakin besar. Jadi sebagai penghantar emas adalah sangat baik, tetapi karena sangat mahal harganya, maka secara ekonomis tembaga dan alumunium paling banyak digunakan.
·         Konduktor pasan: material yang dapat menghantarkan panas dengan mudah. Konduksi panas atau konduksi termal adalah penjalaran kalor tanpa disertai perpindahan bagian-bagian zat perantaranya. Penjalaran ini biasanya terjadi pada benda padat. Konduksi terjadi dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah. Benda suhunya tinggi akan melepaskan kalor, sedangkan zat yang suhunya rendah akan menerima kalor, hingga tercapai kesetimbangan termal. Penjalaran panas ini diperikan oleh rumus matematika berikut:
                                  T = C + (T0 − C)ekt
T adalah suhu, T0 suhu awal, t waktu, C dan k adalah konstanta


VIII. Alat dan Bahan

Alat :

1.      Konduktometer

2.      Termometer

3.      Buret 50 ml

4.      Pengaduk Magnit

5.      Pipet Ukur

6.      Pipet Tetes
7.      Labu Takar
8.      Erlemenyer 250 ml
Bahan :
1.      Etyl Asetat
2.      NaOH 0,1 M
3.      Aquadest
4.      CH3COONa 0,1 M
5.      Indikator PP
6.      Aseton
IX.   Prosedur Percobaan
1.      Buatlah larutan etyl asetat 0,02 M, NaOH 0,02 M sebanyak 50 ml.
2.      Masukkan 50 ml 0,02 M etyl asetat dan 50 ml NaOH 0,02 M ke dalam Erlemenyer atau beker gelas 250 ml.
3.      Celupkan set konduktometer kedalam Erlemenyer/beker gelas yang berisi sample tersebut.
4.      Untuk menjaga agar temperature konstan gunakanlah thermometer dan catatlah suhu percobaan.
5.      Amati perubahan daya hantar setiap selang waktu 5 menit sampai lebih kurang 1 jam.
6.      Untuk mengamati K0 (daya hantar pada waktu awal = t0) dengan cara mencelupkan sel konduktometer kedalam 50 ml NaOH 0,02 M. Setelah suhu percobaan sama dengan langkah (4), bacalah skala daya hantarnya.
7.      Untuk mengamati/menentukan K (daya hantar pada saat reaksi NaOH sempurna) caranya sama seperti percobaan (6) tetapi larutan NaOH diganti dengan CH3COONa atau dapat juga dengan cara titrasi 50 ml CH3COOH 0,02 M dengan NaOH 0,02 M dan amati daya hantarnya pada saat titik ekuivalen.
X. Data Hasil Pengamatan
XI. Analisa Data
XII. Pembahasan
XIII. Kesimpulan
1.       Penentuan orde reaksi dan konstanta dapat dilakukan melalui konduktometri.
2.       Semakin besar konsentrasi, maka daya hantarnya akan semakin besar juga.
3.     Daya hantar akan semakin besar seiring dengan jumlah molekul yang semakin rapat.
4.    larutan tersebut akan mengalami reaksi cepat, apabila saat pencelupan konduktometer  dikocok
5. Penentuan konstanta kecepatan reaksi dapat berpengaruh dari fungsi temperatur saat nol.
6. Suatu kesalahan dapat terjadi baik dari praktikan, alat dan bahan yang digunakan. 
XIV. Daftar Pustaka

        Ali, Farida & Tuty Emilia Agustina. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Físika.    Inderalaya : LDB
        Dogra S.K & Dogra S. 2008. Kimia Fisika dan Soal-soal. Jakarta : UI
        Mulyani, Sri & Hendrawan. 2010. Kimia Fisika. Bandung : UPI








LAPORAN

Judul
Hukum Newton

 Tujuan Pratikum
1.      Agar mahasiswa memahami Hukum Newton pada gerak benda (GLB dan GLBB)
2.      Agar mahasiswa bisa menyelesaikan soal-soal  yang berkaitan denga Hukum Newton.

 Landasan Teori
Hukum gerak Newton adalah hukum sains yang ditemukan oleh Isaac Newton mengenai sifat gerak benda. Newton sering disingkat dengan N.
1.1 Hukum Newton I
Benda yang diam akan bergerak jika diberi gaya. Benda yang sudah bergerak dengan kecepatan tertentu, akan tetap bergerak dengan kecepatan itu jika tidak ada gangguan (gaya). Hal diatas merupakan dasar dari Hukum Newton I yang dapat dituliskan sebagai berikut:
Jika gaya total yang bekerja pada benda itu sama dengan nol, maka benda yang sedang diam akan tetap diam dan benda yang sedang bergerak lurus dengan kecepatan tetap akan tetap bergerak lurus dengan kecepatan tetap. Secara sederhana Hukum Newton I mengatakan bahwa perecepatan benda nol jika gaya total (gaya resultan) yang bekerja pada benda sama dengan nol.
Jika gaya resultan pada benda adalah nol, maka vector kecepatan benda tidak berubah. Benda yang mula – mula diam akan tetap diam; benda yang mula – mula bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan yang sama. Benda hanya akan mengalami suatu percepatan jika padanya bekerja suatu gaya resultan. Hukum ke-1 ini sering disebut Hukum Kelembaman (inertia law).
Sebenarnya pernyataan hukum Newton I di atas sudah pernah diucapkan oleh Galileo beberapa tahun sebelum Newton lahir Galileo mengatakan: Kecepatan yang diberikan pada suatu benda akan tetap dipertahankan jika semua gaya penghambatnya dihilangkan.

1.2. Hukum Newton II
Hukum Newton II akan membicarakan keadaan benda jika resultan gaya yang bekerja tidak nol. Bayangkan anda mendorong sebuah benda yang gaya F dilantai yang licin sekali sehingga benda itu bergerak dengan percepatan a. Menurut hasil percobaan, jika gayanya diperbesar 2 kali ternyata percepatannya menjadi. 2 kali lebih besar. Demikian juga jika gaya diperbesar 3 kali percepatannya lebih besar 3 .kali lipat. Dan sini kita simpulkan bahwa percepatan sebanding dengan resultan gaya yang bekerja.
Sekarang kita lakukan percobaan lain. Kali ini massa bendanya divariasi tetapi gayanya dipertahankan tetap sama. Jika massa benda diperbesar 2 kali, ternyata percepatannya menjadi ½ kali. Demikian juga jika massa benda diperbesar 4 kali, percepatannya menjadi ¼ kali percepatan semula. Dan sini kita bisa simpulkan bahwa percepatan suatu benda berbanding terbalik dengan massa benda itu.
Kedua kesimpulan yang diperoleh dari eksperimen tersebut dapat diringkaskan dalam Hukum Newton II : Percepatan suatu benda sebanding dengan resultan gaya yang bekerja dan berbanding terbalik dengan massanya.
Besarnya percepatan (a) yang dihasilkan oleh gaya (Ftot) yang bekerja pada sebuah benda adalah berbanding lurus dan searah dengan total gaya luar yang bekerja dan berbanding terbalik dengan massa benda (m).
Konsekuensi dari hukum II Newton ini
SF = resultan gaya yang bekerja
m = massa benda
a = percepatan yang ditimbulkan

Jika dalam bentuk vektor maka penuslisannya adalah :
ΣFX = m.aX
ΣFY = m.aY
ΣFZ = m.aZ

1.3. Hukum III Newton  (Aksi-Reaksi)
Apabila sebuah benda memberikan gaya kepada benda lain maka benda kedua memberikan gaya kepada benda pertama. Kedua gaya tersebut memiliki besar gaya yang sama tetapi berlawanan
Hukum ketiga menyatakan bahwa tidak ada gaya timbul di alam semesta ini, tanpa keberadaan gaya lain yang sama dan berlawanan dengan gaya itu. Jika sebuah gaya bekerja pada sebuah benda (aksi) maka benda itu akan mengerjakan gaya yang sama besar namun berlawanan arah (reaksi).
Gaya yang bekerja pada suatu benda (aksi) selalu mendapat reaksi yang besarnya sama tetapi dengan arah berlawanan.
atau


Yang mana disebut aksi dan yang disebut reaksi tidaklah penting, yang penting kedua-duanya ada. Ada gaya yang bukan gaya mekanik, dalam hal ini pasangan reaksinya (dalam arti hukum Newton III ) tidak ada.

Sifat pasangan gaya aksi dan reaksi sebagai berikut ;
1.      sama besar
2.      arahnya berlawanan
3.      bekerja pada benda yang brlainan ( sartu bekerja pada benda A, yang lain bekerja pada benda B.
Ketiga hukum Newton di atas merupakan dasar dari teori mekanika klasik yang mencapai keberhasilan yang sangat mengagumkan karena hamper dapat menjelaskan semua fenomena gerak, bahkan mencakup pergerakan planet. Kelemahan mekanika klasik adalah gagal untuk menjelaskan beberapa hasil percobaan yang dilakukan pada awal abad 20, sehingga mendorong timbulnya Mekanika relavistik dan Mekanika kuantum. Namun Mekanika klasik masih cukup akurat untuk diterapkan pada fenomena gerak dalam skala makro dan kehidupan sehari- hari.

 Alat dan Bahan serta Fungsinya
1.      Katrol berfungsi untuk alat penggerak dan penyeimbang tali dengan massa benda
2.      Beban (balik kayu) berfungsi sebagai alat penyeimbang
3.      Neraca pegas alat untuk mengukur gaya dari massa suatu benda,
4.      Anak timbangan untuk pemberat dalam menyeimbangkan masssa yang akan dihitung

   Pembahasan
Pada hukum Newton yang pertama menyatakan bahwa “setiap benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan jika tidak ada resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut” maksudnya suatu benda bila tidak ada gangguan dari luar benda tersebut akan cenderung mempertahankan keadaannya, maka percepatan bergantung kepada acuan yang dipakai. Yang disebut dengan acuan inersia. Hukum newron  pertama ini disebut kelembaman, karena setiap benda akan mempertahakan kedudukannya atau keadaannya . . . . . . . . . 

Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil pratikum kali ini bahwa bila dua benda yang massanya atau beratnya berbeda maka akan mengalami suatu perubahan perpindahan kedudukan. Seperti pada Hukum Newton kedua apabila Percepatan suatu benda sebanding dengan resultan gaya yang bekerja dan berbanding terbalik dengan massa bendanya. Sedangakan Pada hukum Newton yang pertama menyatakan bahwa “setiap benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan jika tidak ada resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut”. Jika  benda pertama mengerjakan gaya terhadap benda kedua, maka benda kedua akan mengerjakan gaya terhadap benda pertama yang besarnya sama tetapi harganya berlawanan ini disebut dengan Hukum Newton ketiga

Daftar Pustaka
   Tim Penyusun Fisika Dasar. 2007. Panduan Praktikum Fisika Dasar 1.  Inderalaya: FKIP Unsri.
Alonso,Marcelo dan Edward U. Finn.1980.Dasar- Dasar Fisika Universitas.  Jakarta. 










FISIKA DASAR II

ELEKTROSKOP
Elektroskop adalah alat yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya muatan pada suatu benda. Struktur elektroskop terdiri dari puncak dan daun elektroskop yang dihubungkan dengan sebuah batang sejenis besi. Elektroskop bersifat netral
Ketika puncak didekatkan dengan benda bermuatan positif, maka terjadi induksi yang menarik muatan negative untuk berkumpul dipuncak, sedangkan didaun elektroskop bermuatan positif. Karena pada dua sisi daun bermuatan positif, maka daun tersebut menjadi tolak menolak, akhirnya melebar.
Ketika puncak didekatkan dengan benda bermuatan negatif, maka terjadi induksi yang menarik muatan positif untuk berkumpul dipuncak, sedangkan di daun elektroskop bermuatan negatif. karena pada dua sisi daun bermuatan negatif, maka daun tersebut menjadi tolak menolak, akhirnya melebar.
Untuk mendekatkan benda, diusahakan sedekat mungkin, dan jangan menyentuh
Untuk mengidentifikasi muatan listrik sebuah benda dapat digunakan elektroskop. Elektroskop terdiri dari sebuah bola konduktor yang dihubungkan dengan dua buah daun logam (biasanya emas) dengan menggunakan batang konduktor. Dengan menggunakan bahan dari isolator sebagai penyekat, daun elektroskop dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang terbuat berdinding kaca.
Prinsip kerja elektroskop adalah induksi listrik.
Dimana jika kepala elektroskop yang netral didekatkan dengan benda, maka daun elektroskop akan mengembang jika benda tersebut bermuatan listrik, dan tetap jika benda tersebut tidak bermuatan listrik

Keterangan gambar :
a = daun elektroskop
b = batang konduktor
c = tabung gelas
d = kepala elektroskop

Elektroskop adalah alat yang dapat digunakan untuk mengetahuai sebuah benda bermuatan listrik atau tidak dan juga untuk mengetahui jenis muatan listrik suatu benda.
Konsep elektroskop :
PNP : Positif Negatif Positif NPN : Negatif Positif Negatif
Pemanfaatan listrik statis :
  1. Mesin fotocopy
  2. Mesin printer Inkjet
  3. Penangkal petir
  4. Penggumpal asap
  5. Generator van de graff
  6. Pengecatan mobil
Listrik statis adalah muatan listrik yang berada dalam keadaan diam. Setiap benda tersusun dari atom-atom. Atom dibentuk oleh proton, elektron dan netron.
Elektron merupakan partikel atom yang bermuatan listrik negatif
Proton merupakan partikel atom yang bermuatan listrik positif
Netron merupakan partikel atom yang tidak bermuatan
Proton dan netron merupakan partikel pembentuk inti atom atau nukleus.
Benda dikatakan bermuatan listrik positif jika jumlah proton lebih banyak daripada jumlah elektron
Benda dikatakan bermuatan listrik negatif jika jumlah elektron lebih banyak daripada jumlah proton
Benda dikatakan netral jika jumlah proton sama dengan jumlah elektron

Sifat Muatan Listrik
Muatan sejenis, maka  akan saling tolak menolak
Muatan tak sejenis (berbeda), maka akan saling tarik menarik

Muatan Listrik
Plastik digosok dengan kain woll. Elektron kan berpindah dari kain woll ke plastik akibatnya plastik akan bermuatan negatif
Kaca digosok dengan kain sutra. Elektron akan berpindah dari kaca ke kain sutra akibatnya kaca bermuatan positif
Daya hantar benda
Konduktor
Konduktor adalah benda yang dapat menghantarkan muatan listrik.
Contoh : logam, tubuh manusia, air
      Isolator
Isolator adalah benda yang tidak dapat menghantarkan muatan listrik.
Contoh : plastik, kayu, kaca
Hukum Coulomb
Hukum Coulomb ditemukan oleh Carles de Agustiune Coulomb seorang ilmuan perancis. Menurut hukum Coulomb :
“ Besarnya gaya elektrostatis antara dua benda bermuatan listrik akan berbanding lurus dengan besarnya kedua muatan masing-masing dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua muatan tersebut “
Hokum Coulomb dutuliskan dengan persamaan :

q 1 = Muatan benda pertama dalam Coulomb ( C )
q 2= Muatan benda kedua dalam Coulomb ( C )
R= Jarak antara kedua muatan dalam Meter (m)
F= gaya coulomb dalam Newton (N)
K = 




MEDAN LISTRIK
Medan listrik adalah ruang disekitar benda bermuatan listrik yang masih ada pengaruh gaya elektrostatisnya.   Arah medan listrik dari positif ke negatif
Besarnya kuat medan listrik dituliskan dengan :
F = gaya elektrostatis dalam Newton
q = muatan listrik ndalam Coulomb
E = kuat medan listrik dalam N/C
  • Medan listrik E adalah besaran vector.
  • Arah medan listrik meninnggalkan muatan jika muatan positif dan menuju muatan jika muatan negative.
  • Jika muatan positif, maka F searah E dan jika muatan negative, maka F berlawanan arah E
  • E di dalam bola konduktor = nol
  • Untuk dua plat/keping sejajar.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini